WELCOME TO MY BLOG

Jumat, 11 April 2014

Jingga


.
     Perlahan kulepas genggaman tangan Robbie. Dan dia menatapku penuh tanya. Aku tersenyum tipis dan diam dalam langkah kami. Tapi sesaat kemudian dia berhenti.
"Ada apa?" tanyanya.
" Tak ada apa-apa," jawabku pendek.
" Lalu kenapa seakan kau ragu bertemu dengan keluargaku?" tanyanya memburu.
" Aku..." Kugantung kalimatku sambil menatapnya," Aku belum siap."
Akhirnya kalimat itu meluncur juga dari mulutku setelah semalam aku bergulat dengan perasaanku. Robbie mendekat dan meraih kedua tanganku. Dia tersenyum manis dalam sikapnya yang tenang. Seolah dia telah tahu apa yang aku rasakan semalaman hingga pagi ini.
" Rani, jika memang kamu belum siap nggak apa-apa. Nggak perlu ketakutan kayak gitu. Toh keluargaku juga nggak memaksa kita untuk segera menikah atau semacamnya. Kalo kamu merasa terbebani bertemu dengan keluargaku untuk saat ini, ya mungkin lain kali kalo kamu udah bener-bener siap. Oke?" jelasnya tanpa aku duga. Kukira dia akan marah tentang keputusanku. Kukira dia akan salah paham dengan kata-kataku. Ternyata kedewasaan dan pikiran dia lebih terbuka dan menerima dengan segala pertimbangan yang matang. Aku tersipu dalam diam dan menatap ujung sepatuku sebagai bentuk rasa bersalah.
" Hei.. Jangan merasa bersalah gitu. Aku gak marah kok. Dan memang mungkin juga belum waktunya kita saling bertemu dengan keluarga. Kita nikmati kebersamaan kita saja dulu yaa?" sambungnya seolah dia mengerti isi kepalaku. Didongakkannya kepalaku agar aku menatapnya. Dan kulihat kesungguhan dalam matanya yang selalu membuatku bergetar. Aku memeluknya untuk menyembunyikan tangis dan haruku.
" Sekarang mau jalan kemana?" tanyanya.
" Aku ingin ke pantai," jawabku sambil merenggangkan pelukan dan menatapnya penuh cinta.
" Oke.. Yuk kita berburu sunset?" sambungnya dan menggandeng tanganku. Kulangkahkan kakiku mengikutinya. Hatiku terasa lega dengan semua ini. Kuharap dia mengerti dan memahami sampai nanti.

R@