DERITA HATI I
Apa arti sahabat bagimu? Seseorang yang mengerti akan dirimu? Ada dalam suka dan dukamu? Saat ini aku tak mempercayai arti sahabat lagi dalam hidupku. Sejak Kirana mengkhianatiku menjalin hubungan dengan Wisnu. Entah apa yang ada di benak mereka. Hingga mereka mampu melakukan semua ini terhadapku. Benar kata seorang teman di dunia maya bahwa cinta, kasih sayang dan persahabatan itu adalah OMONG KOSONG !!
Waktu itu aku berkata padanya’ karena kamu egois’. Dan dia sempat protes tapi tak kutanggapi lagi komentarnya. Sekarang aku baru menyadari arti kata-katanya. Bayangan Wisnu dan Kirana berganti-ganti memenuhi benakku. Wisnu. Dari keluarga yang berada, berpendidikan dan masa depan yang tak tanggung-tanggung penerus keluarga “PT SANGKAR JAYA”. Perusahaan dalam bidang ekspor impor makanan siap saji. Kirana. Anak tunggal dari pasangan dokter terkenal di kota ini. Dan aku? Ayahku seorang pengusaha mebel. Dan ibu mempunyai butik yang lumayan ramai bisa untuk mengisi waktu senggang ibu selain menjadi ibu rumah tangga dan istri. Ibu tetap memprioritaskan keluarga diatas segalanya. Dan seorang kakak yang begitu menyayangiku. Mas Dewa.
Kedekatan kami berawal dari acara ulang tahun Saskia putri semata wayang seorang jendral. Aku berteman dengan Saskia dari SMP, meski tak terlalu dekat tapi kami berteman baik. Awal yang tak terduga saat tiba-tiba perutku sakit dan aku kebingungan mencari kamar kecil di rumah Saskia yang segede gudang bulog di kotaku (menurutku hehehe..) Tak sengaja aku menabrak seseorang yang keluar dari sebuah pintu bertuliskan MALE.
“ Aduhh…maaf, aku nggak sengaja,” buru-buru aku minta maaf padanya dan segera berlalu dan masuk ke sebelah pintu yang bertuliskan FEMALE tanpa melihat ekspresinya yang sedemikian kaget melihatku. Dan aku baru tahu setelah kami pacaran beberapa bulan kemudian. Katanya aku dikira hantu yang lagi kesasar. Sialan! Tapi dia menambahkan,” tapi kok hantunya bikin aku jatuh cinta ya?” Dan aku selalu dengan jurus pamungkasku mencubit dan memukulnya dengan gemas. Dan dia selalu menikmati setiap kebersamaan kami waktu itu. Karena pekerjaan dia yang membuat kami jarang bertemu. Tak terasa hubungan kami telah berjalan hampir tiga tahun. Pada tahun ketiga sahabatku sejak SMA pulang kekotaku setelah dia menyelesaikan kuliahnya diluar negeri. Kirana Alva Mendoza. Mirip orang Mexico? Yup! Kakek Kirana adalah keturunan Mexico. Dibekali wajah yang ayu dan kepribadian yang ramah, setiap orang selalu merasa betah dekat dengannya. Tak terkecuali Wisnu! Semenjak aku perkenalkan mereka ada yang berubah dalam hubungan kami. Aku selalu sulit untuk bertemu dan menelfonnya. Ada yang tak beres dengannya. Dan puncaknya terjadi saat aku tak sengaja lewat didepan rumah Kirana. Iseng aku mampir untuk memberi kejutan padanya. Dan akulah yang terkejut diruang tamu itu setelah tahu apa yang terjadi. Kulihat Kirana mencium Wisnu . Aku terpaku dan tak bisa berkata apa-apa. Dan saat mereka menyadarinya aku telah berlari meninggalkan rumah Kirana bersama tetesan air mata yang begitu pahitnya. Wisnu berusaha mengejarku. Sampai dirumah kutumpahkan tangisku. Aku begitu terluka dengan semua itu. Kenapa mereka begitu tega kepadaku?? Wisnu datang berkali-kali semenjak itu. Begitupun Kirana. Tapi aku tak pernah memberi kesempatan kepada mereka untuk menjelaskan semuanya. Bagiku sudah jelas. Mereka mengkhianati kepercayaan yang telah kuberi! Dan keluargaku tak dapat membantu mereka karena mereka tahu sifatku yang begitu kerasnya dalam hal kepercayaan. Dan untuk melupakan semua itu aku minta ijin ayah menemani eyang putri di kampung. Pikirku mungkin dengan pergi dari kota aku bisa sedikit-sedikit melupakan kejadian ini semua. Dan ayah tak punya pilihan lain kecuali mengiyakan keputusanku. Karena ayah begitu sedih melihatku mengurung diri setelah kejadian itu.
Dirumah eyang putri aku sedikit terhibur. Berteman semilir angin dan hijau pegunungan hobiku menulis puisi kambuh lagi. Berlembar-lembar puisi aku tulis tentang kekecewaanku. Dan aku jadi gemar menggambar. Hanya sketsa-sketsa namun memberiku keasyikan tersendiri. Aku mulai dapat tersenyum kembali. Dan semoga aku segera melupakan apa yang telah terjadi. Setidaknya hati ini ikhlas dengan semua yang Wisnu dan Kirana lakukan terhadapku.
DERITA HATI II
Aku tertawa jika aku mengingat kejadian itu. Perkenalanku dengan gadis yang selama ini aku sayangi. Meski saat ini aku tak lagi bisa menemukan jejaknya setelah kejadian beberapa bulan yang lalu namun memori itu kan tetap terpatri dalam hatiku. Sosoknya tak kan pernah tergantikan oleh yang lain. Yang lain ? Meski aku sekarang dekat dengan Kirana namun dia tak seperti gadisku. Ada lagu dangdut yang sempat aku dengar sayup-sayup saat aku melewati perempatan lampu merah dikota kemarin. Dinyanyikan oleh pengamen jalanan yang belum sempat mampir di jendela mobilku. Lagu itu seperti menyindirku. "..Kalau sudah tiada baru terasa bahwa kehadirannya sungguh berharga..” Kehembuskan nafasku kuat, aku ingin sedikit mengurangi rasa bersalah dan sesak yang ada dalam dadaku. Mungkin benar..aku baru menyadari semua itu. Apa yang kurang dari dia? Dari keluarga baik-baik. Cantik, supel, dan selalu menerimaku apa adanya. Tak pernah mengeluh jika aku terpaksa membatalkan janji karena urusan pekerjaan yang mendadak. Selalu ceria dan tersenyum jika aku menemuinya. Tak pernah ada rasa jenuh yang menghampiri jika aku disampingnya. Huuuffftt..kenapa aku begitu bodoh dengan semua ini? Melepaskan seseorang yang begitu sempurna demi soalan masa lalu yang telah usai. Wajah Kirana dan Meila berganti-ganti mengisi benakku. Meila Dewi. Nama yang sederhana seperti orangnya. Tapi pernah menunjukkan kalau dia dari kalangan berada. Ayahnya yang seorang pengusaha mebel Ekspor Impor. Dan ibunya pemilik beberapa butik termasuk langganan mama. Mobil yang berjejer di garasi jarang dia kendarai. Pernah suatu saat aku tanya mengapa selalu naik kendaraan umum. Padahal ada sopir yang siap mengantar kemanapun dia pergi.
“ Kalau diantar sama bang Su’eb ayah tahu persembunyianku dong jika aku ngambek,” kekehnya sambil menyentil hidungku. Lalu dia menambahkan,” Aku ingin menjadi orang yang selalu bersyukur dengan apa yang Allah berikan. Aku ingin merasakan juga lelahnya mencari uang. Berdesak-desakan diangkutan umum. Makan diwarung pinggir jalan, berbaur dengan orang-orang pinggiran. Aku ingin merasakan menjadi mereka yang bekerja keras untuk mendapatkan sesuap nasi,”katanya sambil tersenyum.
“ Apakah aku terlalu?” tanyanya.
“ Nggak, Nggak ada yang terlalu kok,” aku tersenyum tulus untuknya.
Dan sekarang aku harus kehilangan dia. Tuhan..andai kau ijinkan aku untuk menebusnya akan aku lakukan apapun untuk bisa mendapatkan dia kembali. Aku tak menyangka saat dia memperkenalkan temannya yang ternyata adalah Kirana. Kekasihku yang belum sempat aku putuskan dulu. Yang menghilang karena suatu sebab yang aku sendiri tak tahu apa alasan dia menghilang begitu saja waktu itu. Sampai di sore itu. Dia mengundangku kerumahnya setelah kami sebelumnya beberapa kali telfonan. Hanya menanyakan kabar dan sekedar basa basi. Namun sempat aku melupakan Meila, gadisku yang telah menemaniku selama dua tahun ini. Ada debar yang tak benar dengan semua itu. Namun aku abaikan. Dan puncaknya dia menjelaskan kenapa harus pergi melanjutkan sekolah keluar negeri tanpa memberi tahuku. Walau alasannya sedikit banyak ada yang tak bisa aku terima namun aku juga tak menolak alasannya. Dan dia tetap setia dengan komitmen bahwa hanya aku yang ada di hatinya selama dia ada di negeri seberang. Dan dia menciumku tepat saat Meila tiba diruang tamu rumah Kirana. Aku menyadarinya saat semua telah terlambat. Aku sangat marah dengan apa yang Kirana lakukan. Aku mengejar Meila namun dia telah tak mau lagi menemuiku. Aku ingin menjelaskan tapi sepertinya dia tak mau memaafkan aku lagi.
Kirana merasa sangat bersalah. Diapun berusaha bicara kepada Meila, dan hasilnyapun sama. Sampai kemudian aku diberi tahu bahwa Meila pergi menenangkan hati. Aku tak b isa berbuat apa-apa lagi. Karena keluarganya seperti dijanji Meila untuk tidak memberitahu keberadaannya. Aku hanya pasrah dengan segala keputusannya. Andai dia tahu semua yang terjadi adalah diluar kehendakku. Dan aku hanya mampu berharap kelak aku dapat menjelaskan kepadanya. Bahwa semua ini hanya salah paham belaka dan hanya dia yang ada di hatiku selama ini.
DERITA HATI 3
Aku telah menjadi monster bagi sahabatku sendiri. Sahabat? Mungkin juga dia tak lagi menganggapku sahabat lagi. Dengan semua apa yang telah terjadi mustahil diapun mau memaafkan aku. Air mata ini kembali menetes dipangkuan. Aku terbawa perasaan saat bertemu dengan Wisnu. Rasa yang selama ini kusimpan dan kupendam untuk dia ternyata sia-sia belaka. Selama di luar negeri aku berusaha bertahan pada janjiku sendiri untuk tetap memberikan hati ini sekembalinya aku dari luar negeri. Salahku jika semua ini menjadi berantakan seperti ini. Aku tak memperkirakan kalau Wisnu mendapatkan penggantiku. Dan parahnya dia adalah sahabat kecilku dulu. Ironisnya lagi aku tak merelakan mereka untuk bersatu. Jahatnya diriku. Aku tergugu dalam kamarku menikmati sakit ini sendiri.
Masih kuingat saat terakhir aku bicara padanya, malam sebelum kepergianku keluar negeri.
“ Bila aku harus pergi untuk sementara, apakah kau mampu untuk menungguku ?” tanyaku padanya
“ Maksudmu ?” tanyanya dengan wajah yang tidak mengerti.
Aku hanya bertanya seumpama aku harus pergi sementara apakah kau sanggup untuk menungguku ?” jawabku dengan tersenyum.
“ Kamu ini ngomong apa sih ? Kayak kita ini mau pisah aja. Memangnya kamu mau pergi kemana ?” tanyanya balik.
“ Mau menggapai bulan…” jawabku bercanda.
Dan dia menggelitikku sampai aku minta ampun untuk bisa menghentikan apa yang dilakukannya. Dan esok harinya aku berangkat keluar negeri tanpa memberitahunya. Air mata ini tak henti menetes dengan perpisahan yang terpaksa. “ Maafkan aku Wisnu, kelak kau akan mengerti mengapa semua ini harus terjadi,” isakku didalam pesawat.
Dan empat tahun ternyata telah merubah segalanya. Aku tak mendapati dirimu sendiri seperti dulu. Ada seseorang yang telah hadir menggantikanku. Dan dia adalah sahabatku sendiri. Ada perih disudut hati. Namun aku juga tak bisa berbuat apa-apa. Semua telah terlambat. Tapi aku ingin menjelaskan semuanya tentang kepergianku selama ini. Namun apa yang terjadi malah membuat masalah yang baru.
Sahabat maafkan aku…
“Telah ku rusak kebahgiaanmu bersama orang yang kau cintai, meski orang itu juga aku cintai. Namun keadaan yang telah merubah segalanya hingga dia memilihmu menjadi tambatan hatinya setelah kepergianku.”
Kuusap lelehan airmataku. Aku telah memutuskan sesuatu. Dan kuharap keputusanku ini yang terbaik untuk semua pihak. Aku akan pergi jauh dari kehidupan mereka yaitu kembali keluar negeri dan menetap di sana. Agar mereka tenang dan mungkin aku juga bisa segera melupakan semua ini meski aku yakin akan sulit bagiku namun semua ini adalah konsekwensi yang harus ku tanggung. Biarlah aku ibarat lilin kecil bagi mereka, merelakan diri terbakar demi menerangi kegelapan. Aku berharap setelah kepergianku mereka bisa bersatu dan segera menikah, membentuk keluarga yang bahagia.
Kupandangi taman dari jendela kamarku. Hujan yang mengguyur siang tadi membuat suasana segar sore ini. Rumput yang kelihatan segar menghijau dan udara yang sejuk membuat suasana hatikupun terlarut dalam sore yang teduh ini. Kulirik tas dan koper yang telah kusiapkan tadi malam.Walau harus melalui perdebatan yang panjang dan ijin yang begitu berbelit dari pap dan mama, namun akhirnya aku memperoleh ijin untuk kembali meneruskan kuliahku sambil bekerja di luar negeri. Dan aku memberikan beribu alasan yang mampu meyakinkan papa dan mama agar aku di perbolehkan menetap di luar negeri. Meskipun agak keberatan namun akhirnya mereka memberiku ijin dengan syarat aku harus pulang setahun sekali. Dan aku segera menyetujuinya. Kuhela nafas yang segera membentuk embun di jendela kamarku. Semoga keputusanku ini tepat,batinku.
“ Semoga kalian bahagia…”doaku lirih.