WELCOME TO MY BLOG

Senin, 26 Juni 2017

Maksud

Aku tahu maksudmu..
Kau tak pernah lagi menghubungi aku
Bahkan menghindar saat aku tanya kabarmu
Aku tahu maksudmu
Agar aku menjauhimu..dan melupakan tentang kita
Agar rasa bersalah yang ada dihatimu selama ini bisa hilang dengan sendiri
Aku tahu maksudmu..
Meninggalkan ku saat kau punya kesempatan itu
Rasa iba tanpa rasa yang lain selalu menggelanyutimu
Membuatmu mencari alasan untuk pergi dan baru kali ini kau dapati
Mengapa begitu jahat jika kau sebenarnya bisa berpendapat
Mengapa begitu tega jika kau bisa mengatakan yang sejujurnya
Semua ini tak kan sia-sia
Semua ini tak kan terbuang percuma
Segala pengorbanan dan ketulusan ini suatu hari pasti ada yang menghargai

Sangatta Utara, 27 juni 17 0:18

Sabtu, 17 Juni 2017

Kesedihan tak berujung

Aku hanya mencari kegiatan untuk melupakan bahwa kau pergi. Aku berusaha bertahan dengan hati ini setelah kau tak ada disini. Aku pura-pura tegar saat kau tinggalkan. Walau sebenarnya teramat sakit perpisahan ini. Dan aku sendirian. 😓😢
Masih berupaya mencari kekuatan setelah pergimu. Kedekatan diri lagi pada Yang Esa. Ku basahi sajadah yang kau tinggalkan demi sebuah ketenangan. Dan kumulai kembali membaca ayat-ayatNya agar sejenak aku melupakan. Kendati setelahnya aku masih menangis dan tak berdaya namun setidaknya aku telah berkeluh kesah pada Yang Esa. Agar aku tetap diberi hati lapang. Ketegaran dan kekuatan dalam menjalani hari tanpamu lagi. Menunggu engkau tanpa kabar yang pasti. 😢 Aku sedih dan teramat sakit saat kutahu rindumu bukan untukku. Untuk yang lain yang kau anggap lebih dari aku. Karena memang aku jauh dari sempurna. Tak seperti mereka yang masih muda. Tapi aku punya hati yang tulus untukmu. Yang tak pernah meminta apa dari rasaku.. Namun aku bisa apa?? Itulah yang kau tulis disana.. Kau bisa melakukan apapun karena kau bisa.. Dan kau mau.. 😥 dan itulah inginmu..

Sangatta Utara, 17.6.17
23.47 😥😢😞
Kesedihan tak berujung..

Jumat, 16 Juni 2017

SUDAHLAH!!!

Sudahlah!.. Hati..
Hentikan rasamu itu!
Jika dia menyayangi, dia tak kan pernah membiarkanmu sendiri
Rasa kasihan yang kuatlah yang ada dihatinya bukan sayang apalagi cinta
Kau tak pernah benar-benar ada dalam hatinya
Maka dari itu sayangilah hatimu sendiri
Mulailah berjalan sendiri😢
Kau tak cukup baik untuk dirinya
Kau tak cukup sempurna untuk menemaninya
Menyerahlah pada keadaanmu
Bahwa apapun yang kau lakukan
Takkan cukup hebat untuknya!
Kau seharusnya sadar sedari dulu
Kau ini apa!!!!
Tak lebih dan tak bukan hanya wanita tak punya malu dan perasaan!!
Adakah hubunganmu dengannya?
Dia saja gak mau tahu tentang hubungan ini kenapa kau masih saja bertahan dalam rasamu itu? Apa gunanya untukmu?
Hati... Be realistis!

17/6/17
Sangatta Utara, 3.35

Jumat, 09 Juni 2017

Perpisahan

Beberapa hari ini aku tak bisa tidur. Sejak keputusanmu untuk pergi dari sini. Bukan karena kepergianmu yang membuatku berfikir dan enggan pejamkan mata. Namun untuk apa lagi aku bertahan dikota ini, jika bertahanku selama ini adalah karenamu. Masih ingatlah saat aku menangis dipinggir jalan mengiba-iba padamu ditengah malam. Aku mohon kepadamu jangan tinggalkan aku. Aku menangis semalaman sampai bengkak dan kau tetap terdiam. Hanya karena aku pergi dengan teman karena ingin menjalankan bisnis bersama. Meski  kerja sama itu gagal karena mereka menginginkan aku sendirian  dan aku tak mau,  aku tak ingin meninggalkan mu. Aku tak ingin berpisah darimu. Sekarang dengan keputusanmu itu aku tak tahu lagi bagaimana menentukan langkahku setelah pergimu. Hatiku  tercabik meski ini semua yang terbaik. 😢 entahlah.. Rasanya dunia ini tidak adil kepadaku. Setiap malam aku menangis(lagi) sesaat setelah kau pergi menemui temanmu entah sekedar ngopi, atau apalah aku tak tahu semalam suntuk dan kau kembali subuh. Selama itu pula mata ini tak pernah kering dan terpejam.  Kau tak pernah pikirkan itu semua bukan? Karena memang hatimu tak pernah ada untukku. Kau tak pernah memandang ku. Yang kuingat kau bersamaku karena kau merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi. Intinya ibalah yang kau miliki terhadapku. Tapi tetap kusyukuri.. Beberapa bulan ini aku bisa menahanmu untuk berada disampingku. Beberapa bulan ini aku tahu kau begitu tersiksa akan kehadiranku. Kebebasan yang terenggut. Aku tahu.. Aku terlalu egois dalam hal ini. Maafkan aku.
Beberapa hari terakhir ini.. Aku ingin terlihat tegar didepanmu. Tak ingin terlihat sedih dan terluka dihadapanmu. Meski terasa remuk redam rasa itu kupendam dalam hati. Aku tak ingin memberatkanmu. Aku tak ingin lagi kau terbebani. Biarlah cukup aku yang merasakannya.
Pergimu mungkin untuk kebaikan kita bersama. Masa depanmu. Keluargamu. Pun aku. Hanya berharap suatu saat nanti kita bertemu lagi. Entahlah.. Mungkin hanya harapanku saja. Karena apa yang terhubung antara kita tak pernah terjelaskan. Kau dengan prinsipmu dan aku yang terlalu. Ah.. Sudahlah. Terlalu banyak aku mengerti tentang dirimu. Terlalu banyak tanya dan aku takut akan jawabannya. Dan begitu banyak kenangan tentang kita yang tak mudah aku hapus begitu saja. Aku tak ingin ada kebencian diantara kita.
Jaga dirimu, kesehatanmu.. Aku akan baik-baik saja.. 😢

Sangatta, june 9"17

Jumat, 02 Juni 2017

Percakapan

"Apa kamu baik-baik saja Nduk?"
Diam.
"Kenapa? Sakitkah kamu?"
Diam.
"Jangan diam saja to,  ibu kan gak tau kamu sedang apa dan kenapa?"
Isak lirih.
"Kok malah nangis,  ada apa to? Bilang jangan di pendam"
Akhirnya...
"Aku ingin ibu pulang.... "

#plak
#backtoreallity

‌Dulu itu adalah percakapan jarak jauh antar benua yang terjadi antara aku dan mereka. Gadis-gadis kecilku. Kini.. Semua ilusi. Hayalan tingkat tinggi bila hal itu terjadi lagi. Karena sekarang telah berbeda adanya. Dengan masalah yang berbeda pula. Namun tak pernah beda doa-doa yang selalu kupanjatkan kepada Yang Esa. Berikan yang terbaik untuk mereka Ya Rabb.. 😞😩😢

Cerita dari teman

Aku adalah seorang pelacur. Walau sebenarnya terlalu kasar hal itu kusebutkan. Namun begitulah adanya. Aku menemani laki-laki yang kesepian entah itu sekedar ngobrol,  minum atau bercinta. Dengan imbalan uang setelahnya. Bukankah itu yang disebut pelacur? Selama ini aku tak perduli dengan sebutan itu. Sebutan yang orang-orang beri padaku atas apa yang mereka lihat dalam kehidupanku. Aku juga tidak perduli akan sikap mereka,  karena aku juga tidak mau perduli atas kehidupan mereka seperti apa. Bagiku kehidupanku adalah hakku dan tanggung jawabku. Bukan mereka. Toh mereka juga tidak tahu mengapa dan bagaimana aku bisa seperti ini.
Aku hanya menjalani kehidupanku. Itu saja.
Suatu hari aku ditelepon oleh seorang teman lama. Dia singgah ke kotak tinggal untuk beberapa hari. Dan dia ingin aku menemaninya selama dia ada di kotak untuk urusan bisnisnya. Aku mengiyakannya. Secara aku sudah terbiasa dalam menemani seseorang pikiranku saat itu. Dan hari itulah tiba. Dia datang saat hujan gerimis membasahi  setiap jalanan. Pakaiannya yang rapi dan santun membuatku malu. Kenapa dia memilih aku untuk menemaninya?  Sedangkan bila dia mau dia akan memilih wanita yang lebih dari aku. Yang lebih terhormat lah dimata dia. Bukan pelacur seperti aku. Tapi pikiran itu kutepis,  kesimpan dalam. Seiring dengan obrolan dan tawa canda seperti masa lalu. Dia tidak berubah. Tetap temanku yang lama itu. Walau aku tahu dia tahu akan profesiku. Malam semakin larut saat kami menghabiskan waktu perjumpaan kami dimalam itu. Dan jam telah menunjukkan angka melewati angka satu. Dia tersadar dan mengajak ku pulang. Aku diantarnya pulang ke kost  dan dia balik ke penginapannya. Aku termangu setelah dia pergi. Namun segera (kembali) kutindih tanyaku dalam hati.
Keesokan hari aku ditelepon kembali oleh dia. Dia berharap aku mau menemaninya makan malam dengan klien nanti malam. Dan dia akan menjemput setelah jam tujuh malam. Aku mengiyakannya. Karena memang sudah berjanji padanya untuk menemani selama dia ada dikotaku. Jam tujuh lewat sedikit dia mengetuk pintu dan kami pergi ke restoran yang kebanyakan tamunya orang-orang berkelas. Aku sedikit kikuk saat itu. Seakan dia tahu dia genggam tanganku sambil tersenyum seakan mengatakan, "tidak ada yang perlu dikuatkan."
Dan aku sedikit merasa tenang. Pertemuan itu berjalan dengan baik. Bahkan klien nya mau bekerja sama dengannya diproyek selanjutnya. Setelah kliennya pergi. Aku lalu diantar pulang. Dan dia kembali ke penginapan. Sebelum kembali ke penginapan dia mengucapkan terima kasih dan memberitahu ku bahwa esok dia akan pulang kembali ke kota dia. Tapi dia ingin bertemu denganku sebelum dia pulang. Dan laki-laki aku mengiyakannya.
Keesokan hari dia datang. Aku silahkan dia masuk. Dan aku buat teh untuknya. Saat aku membuat teh aku berencana menanyakan sesuatu yang dua hari ini terindih rapi dalam hati.
Seperti biasa kami berbincang. Dan saat dia akan pamit aku tahan dia dengan pertanyaanku. Mengapa dia tak mengajak tidur dan tetap memilih aku walau aku tahu dia bisa mendapatkan wanita yang lebih baik untuk menemaninya. Dia sempat tertegun. Dan dia menjawab sambil menepuk pundakku," aku tahu apa profesimu. Tapi aku menghargai segala keputusanmu. Karena aku tahu tidak ada yang menginginkan kehidupan seperti yang kau lakukan. Kau pasti punya alasan yang cukup kuat sebelum memutuskan menjalani profesimu. Dan aku tidak akan menodai persahabatan  kita ini dengan nafsu. Karena aku lebih menghargai mu sebagaimana sahabatku yang dulu dari profesimu sekarang. Tetap jadilah dirimu yang dulu apapun yang kau lakukan sekarang ini. Seandainya ada jalan yang lebih baik maka lakukanlah sebelum terlambat kau menyesalinya. Jaga sehatmu sebelum sakitmu. Dan jangan lupa bahagia."

@jangan menghakimi profesi seseorang bagaimana pun kondisinya. Karena kita tidak tahu bagaimana beratnya dia bisa sampai dalam keadaannya yang sekarang.
#respect
#truestory
#testimonial