Namanya Black. Gak ada yang spesial dari pertemuan pertama yang sengaja itu. Di cafe shop ujung alun-alun kota menjadi pilihan kami. Di cafe itulah aku begitu tertekan sekaligus lupa makna tertawa yang sering kulakukan. Ah? Terlalu lebay ya? Tapi memang dari cafe itu aku menjadi tahu seorang 'Black' itu bagaimana. Walau penampilan fisiknya tak jauh beda. Namun yang membuatku tertekan ternyata dia seorang pendiam. Mengapa? Karena apa yang dibicarakan dan yang terlihat tak sesuai dengan apa yang kubayangkan. Aku telah merangkai angan yang salah tentang dia. Kukira aku dapat nyaman bicara apa saja dan dia menjawab ataupun sekedar menimpali omonganku dan tertawa bersama tentang segala hal. Ternyata semua itu cuman hayalan. Tak ada pembicaraan yang pasti. Aku hanya bisa diam dan mereka-reka apa yang akan dikatakannya. Tapi satu jam waktu berlalu tak ada kalimat yang bisa membuat aku merasa nyaman berbicara dengannya. Sangat berbeda sekali saat kita chating.
Sampai aku memutuskan untuk pamit. Dan dia berkata agak terbata ibarat menahanku untuk bangkit,''Aku tau, ini semua gak seperti yang kau harapkan. Tapi setidaknya beri aku waktu lain agar aku lebih 'berani' dengan pertemuan kita.''
Dan benar, aku memang tertahan untuk bangkit setelah mendengar dia berkata 'sepanjang' itu. Aku tertegun dan 'berani' menatapnya yang sedikit jengah juga menatapku. Aku segera mengalihkan pandanganku. Ada desir hebat yang tiba-tiba datang dalam hatiku saat menatapnya tadi. Dengan gugup aku hanya mengangguk dan mengiyakan permohonannya. Dan aku segera bangkit melangkah menjauh dari tempatnya. Langkahku terasa berat seakan-akan dia mengawasiku dari belakang. Di depan cafe aku masih termangu. Pertanyaan dan rasa penasaranku bertambah kental. Sore masih menyisakan semburat matahari. Langit jingga yang merona membawa langkahku menjauhi cafe.
Malam agak dingin setelah terguyur hujan dari pagi tadi. Suara binatang malam seperti berpesta sejak sore tadi. Aku masih di depan jendela kamarku. Memandang kelam langit dan menikmati hembusan angin. Secangkir Indocafe yang menemaniku masih separuh. Aku sengaja ingin menikmati malam ini setelah seminggu ini penat mendera karena pekerjaan. Aku mengambil nafas panjang sekedar menghalau suntuk. Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Tanda pesan masuk. Kuraih diatas meja dan kuliat siapa yang mengirim pesan malam-malam begini. Black! Hatiku berdesir. Hampir satu bulan sejak pertemuan kami di cafe itu tak ada lagi komunikasi diantara kita. Aku yang sibuk dan hampir tak ada waktu untuk chating. Dan diapun seakan memutuskan untuk diam. Kubaca pesannya ''sudah tidur?'' Pesan yang biasa jika kami saling ingin online di salah satu media sosial. Aku tak ingin membalasnya. Namun aku teringat kata-katanya saat pertemuan kami. Aku menjawabnya,''Belum.'' dan segera kukirim. Balasan masuk semenit kemudian,'' Online yuk?''
Aku sudah menduganya. Aku sedang malas online. Selain penat aku ingin menenangkan pikiran dalam hening. Terpaksa aku berbohong, ''Lagi banyak tugas nih? Besok aja yaa?'' tawarku.
'' Oke. Gak papa. Met lembur aja.'' Balasan kuterima saat dentang waktu menunjukkan angka sebelas malam. Aku tak membalasnya. Kuletakkan handphoneku dimeja. Aku merasa bersalah dengan membohonginya tadi. Tapi memang saat ini aku ingin sendiri. Kutarik nafas perlahan.. ''Maafkan aku Black,'' sesalku dalam diam. Kupandang langit masih gemerlap bintang. Namun hatiku telah enggan menikmatinya. Kuputuskan untuk tidur lebih awal dari rencanaku.
Aku bangun tergesa pagi ini karena aku lupa mengeset alarm. Alhasil aku harus 'skip' sarapan kalo gak mau datang terlambat ditempat kerja. Tepat pukul 8 aku sudah ada di depan restoran tempatku bekerja. Saat akan kulangkahkan kaki masuk lewat pintu samping aku mendengar seseorang tengah berbincang dari arah pintu masuk yang menghubungkan ruang samping dan depan. Aku tak sempat memandang karena teman satu shift keburu menghadangku.
''Tau gak kalo manajer kita ganti?'' kata Irma antusias.
''Iya taulah, kan udah dikasih tau dari bulan lalu?'' jawabku sambil lanjut melangkah. Tapi ditahan sama Irma.
''Eh..iya sih, tapi kamu tau gak gantinya? Dia lumayan ganteng tapi serem,'' Irma bergidik.
Aku memandang Irma sambil menahan senyum.
''Ir...ir, mana ada ganteng tapi serem? Vampir kali?? Kan difilm-film vampir tuh pada ganteng-ganteng tapi serem?'' aku menjawab sambil menuju ruang belakang untuk ganti baju. Dan Irma mengikuti sambil membawa sapu. Ternyata dia tadi menyapu tapi kegiatannya terhenti begitu melihatku dan menghadangku dipintu samping.
''Eh, kamu dibilangin gak percaya. Katanya dia putra salah satu grup pemilik restoran kita ini. Baru pulang sekitar dua bulan yang lalu dari England,'' papar Irma panjang sambil menantiku ganti baju. Aku keluar dari bilik sambil manggut-manggut untuk menyenangkan Irma atas segala informasinya. Tapi sepertinya Irma tau aku tak begitu tertarik dengan infonya.
''Huh! Mbilangin kamu itu kayak mbilangin tembok!'' sambil berbalik menuju ke arah depan. Tapi segera ku tarik tangannya sebelum menjauh.
''Iya..iya terima kasih ya? Tapi lain kali jangan ngadang di pintu seperti tadi ya? Selain bikin jantungan, kadang aku kalo di kagetin spontan nempeleng orang biasanya,'' kataku bercanda. Irma yang tadi manyun kembali meringis ingat ulahnya barusan. Dan kita sama-sama ke depan untuk memulai hari baru kami.
Aku masih mengingatnya saat aku tak sengaja bertubrukan di depan toko buku dengan dia. Dan sempat terkejut dengan pertemuan tak sengaja kami saat itu. Dia kaget dan aku kaget. Namun dia lebih bisa menguasi diri dan segera membantuku memunguti buku-buku yang baru saja kubeli.
" Eh kamu, barusan beli buku yaa?" tanyanya basa basi.
Aku yang tak kalah gugupnya hanya menganggukkan kepala.
" Masih ada acara nggak? Kita ngobrol-ngobrol dulu yuk?" tawarnya.
Aku yang sempat memadangnya seperti terhipnotis dengan senyumnya. Dan gilanya aku mengangguk lagi. Duhh..!! Kenapa nggak nolak aja tadi? batinku.
Sepuluh menit kemudian aku dan dia duduk berhadapan dicafe shop. Kupilih tempat di pinggir jendela. Entah mengapa tanganku dingin danmerasa akan terjadi sesuatu hari ini. tiba-tiba aku gelisah. Dan dia sempat merasakan perubahanku.
" Kamu gak papa?" tanyanya.
" Nggak kok..nggak papa," jawabku sambil tersenyum.
" Nggak sengaja ya kita ketemu? Padahal kalo direncana nggak dapat-dapat waktunya," katanya sambil mengaduk minum yang dia pesan. Aku tersenyum lagi sambil membenak," kenapa dia berubah banget dari pertemuan kami yang pertama yah?" perang batin membuat aku sedikit pendiam dengan pertemuan kami ini. Dan dia benar-benar merasakannya.
" Kamu kaget kenapa aku tiba-tiba banyak bertanya dan banyak ngomong padamu?" tanyanya seperti dia mengerti pikiranku. Aku tersentak.Sebelum aku menjawab dia sudah melanjutkan dia memberikan kode dengan jari telunjuknya yang dia tempel dimulutnya agar aku diam dulu dengan segala penjelasannya.
" Karena pekerjaanku sekarang menuntut aku untuk lebih banyak ngomong dan memberikan intruksi-intruksi yang sekiranya dapat membuat maju perusahaan. Dan aku tiap hari harus bertemu banyak orang yang kadang juga harus banyak bicar mengenai produk yang ada dalam perusahaan kami.." jelasnya panjang lebar.
" Memang dulu kamu bekerja sendiri ya sampai kamu ketemu aku diam saja dan ngomong seadanya seakan ngomong itu harus bayar?" tembakku cepat.
Dan dia tertawa. Shit! Aku suka cara dia tertawa. Ada semacam aura bahagia diwajahnya. Entah apa.
" Nggak juga. Dulu memang karena pertama kali kita ketemu dan aku juga gak tahu mau ngomong apa jadi ya aku banyakan diam. Tapi jika nanti kita lebih sering bertemu dan saling sapa kamu akan tahu seperti apa diriku." jawabnya santai.
" Aku nggak nyangka aja kamu banyakan bicara daripada waktu pertama dulu," kataku jujur.
"Orang kan perlu perubahan agar gak stag ditempat aja. Iyakan?" katanya sambil tersenyum.
Aku membalasnya dengan anggukan sambil menyeruput minuman didepanku. Tak sengaja aku melirik jam tanganku. Duaarr! Alamat aku telat kerja! Segera aku buru-buru pamit padanya. Karena aku tak mau reputasiku jelek sebagai karyawan yang telat kerja. Dan kagetnya lagi dia mau mengantarku.
" Gak papa kan aku juga lewat depan tempat kerja kamu," katanya santai seakan tak melihat rasa kagetku barusan. Dan karena memang telah mepet jam kerjaku aku terpaksa mengiyakan tawarannya. Eh? Darimana dia tahu tempatku bekerja? Padahal aku belum bilang tempatku bekerja tadi? Penasaran aku tanya ke dia," Kamu tau dimana aku kerja?"
Sambil tersenyum dan mengambil kunci kontak mobilnya dia berkata," Taulah..kan kamu adalah karyawan yang selalu tepat kerja dan disiplin."
What?
Aku berhenti melangkah dan kembali berbalik menghadap dia. Aroma tubuhnya yang macho 'agak' menggoyahkan hatiku. Dan dengan aksiku dia reflek juga berhenti tepat didepanku.
"Kamu memata-matai aku ?" Tanyaku ketus.
"Aku? Memata-matai kamu? Buat apa? Jawabnya sambil nyengir kuda. Ich.. Sebelnya!
"Ayo cepat! Katanya telat kerja? Kok malah bengong? Ntar manajer kamu nyinyir loh?" Godanya.
Aku dengan cepat tertegun dan balik badan jalan lagi keluar coffee shop menuju tempat parkir. Nggak sempat berpikir kenapa dia tahu segalanya tentang aku. Dan jawaban semua itu setelah aku tiba ditempat kerja. Sampai didepan tempat kerjaku dia juga turun.
"Eh? Kenapa juga kamu juga turun? Udah pulang aja restonya belum buka juga" kataku asal.
"Kata siapa belum buka? Kan bukanya sejak pagi tadi?" Jawabnya asal sambil melangkah santai masuk ke dalam restoran. Dan saat aku masuk kedalam semua teman kerja melihatku dengan tanda tanya dan dari pandangan merekabertanya- tanya kenapa aku bersamanya.
Namun aku tak punya waktu dan kesempatan untuk menjelaskan karena aku segera kebelakang mengganti bajuku dengan baju seragam. Dan saat aku keluar ruang ganti Irma memandangku curiga.
"Kenapa kok mukamu kayak habis liat hantu gitu?" Sambil merapikan baju seragamku.
"Kau semobil dengan Pak Manager yangbaru? Kau kenal dia?"
WHAT?????????