WELCOME TO MY BLOG

Minggu, 29 Maret 2015

NUANSA ROMAN

Angin . . .
Aku selalu menantimu disini . . .
Berharap kau membawa sejumput rindu darinya,
mengudar rasa yang terpasung karena cinta.
Sepi . . .
Aku selalu menunggu disini . . .
Dalam jendela hati yang terpatri, mengukir mimpi
dan melantunkan doa-doa agar kau selalu
mengingatku merapal asa.
Malam . . .
Aku berharap datang . . .
Membuntal nurani dengan segudang harap,
memeluk bintang dan bulan yang terkapar pada
permainan masa usang, mereguk hasrat dalam
lantunan langgam.
Sejenak diam . . . Sejenak bimbang . . .
Semesta . . . Tetap berjalan . . .
Bintang . . .
Kutunggu kelipmu dengan senyum juga tawa
bersama bulan, berbaur angin dan asmara
melenggak-lenggok di hamparan langit berhias
bayang.
- Aku rindu dendam -

R@
~MidLevel~

SERPIH ASA

Semburat jingga menapak di kaki langit
Seiring belaian bayu yang terkait
Pada remang senja di lereng bukit
Senduku kembali datang menggigit

Malam bergulir bertabur bintang
Namun sesaat datang berkabut
Seakan menjawab galau hati yang berdentang
Membisik rindu amarah yang kalut

Resahku tiada alasan
Berombak nyata dan maya impian
Gelisahku berdenting harapan
Walau getir datang berhamburan

Ah ... Mungkin harus sudah
Segala berakhir dalam gundah
Merela hari dan hati yang melemah
Pada realita jiwa yang pasrah

R@
~LawuSelatan~

ILUSI MASA

Aku mengenangmu diantara malam
Dengan beribu bintang serta separuh bulan..mengambang


Suara daun bambu bergesekan
Dan katak yang sedang berlomba memanggil hujan..di pematang


Aku berusaha mengenangmu dalam diam
Berebut kenangan suka dan duka
Mencubit hati yang tersakit-sakit dalam rengkuhan


Memecah harap menjadi kenyataan
Layar angan berhembus perlahan
Menuangkan tinta kelam yang terhapus oleh..selaksa cinta


Tertindih ribuan halusinasi yang mencipta mimpi
Tertumpuk pada cermin diri yang sama sekali tak..berarti


Mengeluhku pada pujangga
Mereka-reka kata melukis aksara
Bermakna...
Berjiwa..
Ah..semua hanya demam ilusi masa
Tak nampak bayangan itu lagi
Atau memang harus terpendam dalam lubuk hati
Jauh.. Jatuh.. Diam

Dan kelak cinta ini hilang sendiri..

R@

~LerengLawu~


RINDANG RESAH

Sendauku berujung kabut
Dalam hati yang kalut
Terdiam bisu berpeluk akut
Sampai kuduk meremang keriput

Galauku bermuara rindu
Seiring angin yang menderu
Bertabur rona jingga dan biru
Memapah senja nan syahdu

Getarku samarkan rasa
Ketiadaan daya yang nyata
Mengundang segala pesona durjana
Menghembus resah jiwa didada

Pesonamu masih mengikatku
Dalam balutan memori ungu
Tenggelam tersembul pilu
Berselimut lara yang tiada tahu

R@
~Bauhinia~

Sabtu, 28 Maret 2015

RINAI

Selirih angin membisikkan rindu yang terlampir
Sedalam asa yang pernah tersampir
Membangkitkan kisi-kisi kenangan
Terbuai dalam belai lamunan
Gerimis mengakhiri jalinan
Sarat lelah yang tak berkesudahan
Terlalu sendu sedih sedan
Menghujam kalbu sembilu rejam
Genang peluh dan air mata
Tersumbat nyala asa yang kian membara
Melantun janji yang pernah terukir
Dalam palung hati dan juga pikir
Sembuhkan sakit ini duhai insan..
Yang kau toreh dengan kesengajaan
Membangun mimpi-mimpi temaram
Namun lemah dan terburai dalam genggaman

R@

Kamis, 19 Maret 2015

SERIBU KERINDUAN

Bulan separuh mengambang dalam remang malam
Melibas gelap dengan redup sinarnya
Tak pernah ingkar meski mendung kadang menyapanya dalam diam
Sayup desahan bayu menggigilkan
hati juga ingatan
Tentang janji dan kerinduan yang terdampar
Dalam dilema asa yang tersamarkan
Senyap dan sunyi kembali menjadi teman
Saat segala harus berakhir tanpa pesan

R@
Negeri Bauhinia

Senin, 16 Maret 2015

ABAIKAN RASAKU

Karena aku terlalu lemah dengan perasaanku saat ini
Aku tak perduli sesering apa aku menangis
Dan sejauh mana aku harus menahan rindu tentangmu
Aku hanya ingin meluapkan sesak yang terlalu dihatiku
Sering aku memandang..
Memandang kejauhan dan menceritakan indahmu pada tiap kesunyian
Mungkin benar selama ini kau hanyalah bayang
Biarkanlah rindu yang bicara padamu
Tentang aku yang terlalu malu untuk mengaku
Bahwa rindu yang ada selalu berpendar tak pernah tergulung waktu
Sebatas angin yang berhembus
Mungkin sebatas itulah kau menghampiri diriku
Dapat kurasakan kehadiranmu
Tetapi aku tak dapat memelukmu walau sejenak
Pernah ada saat dimana aku melewati setiap malam sunyi tanpa bintang
Saat aku diam dalam kegelapan
Dan hadirmu menjadi setitik cahaya yang terangi kehidupan
Tetaplah berpijar dalam gelapnya sisi kehidupanku yang tidak pernah berpendar

R@

SISI LAIN(MU)

*Kamis merona..

"Sometimes live is so busy, I couldn't say hello or send message. But it doesn't mean i have forgotten about u. I'm just giving u time to miss me more.."
     Pesan itu! Setelah sekian lama aku menantinya, seharusnya hal itu akan membuatku bahagia dan berbunga seperti saat pertama aku mengenalmu dan kau menghilang selama 2 bulan. Dan pesanmu yang hanya," Hai, gimana kabarnya nih?" telah membuatku melambungkan asa kembali setelah sempat memutuskan untuk melupakanmu. Mungkin perkenalan kita hanyalah sebatas intermezo bagimu. Makanya engkau begitu mudah melupakan dan berlalu begitu saja. Tapi hari ini kau mengingatku (lagi) terbukti kau menyapaku saat aku mulai mengabaikanmu. Aku ingin segera membalas pesanmu. Tapi sisi lain hatiku melarangnya.
+ "Terlalu mudah kau berikan balasan yang semestinya dapat kau tahan 2 sampai 3 jam mendatang. Biarkan dia juga merasakan bagaimana menunggu jawaban walaupun itu hanya sekedar pertanyaan apa kabar."
- "Ah, kau telalTu banyak pertimbangan. Bukankah pesan itu yang kau inginkan dan kau tunggu-tunggu beberapa minggu ini?"
     Perang batinku semakin membuatku bimbang. Dan akhirnya kuputuskan mematikan hpku. Aku tak ingin pekerjaanku terganggu. Segera kusibukkan dengan tugas yang Mbak Fajar berikan tadi pagi. Pukul 4 sore aku telah bebas dari tugas-tugasku. Hari ini toko tidak terlalu ramai, jadi aku bisa cepat-cepat pulang setelah tugasku selesai. Segera kukemasi peralatanku dan siap-siap untukk pulang. Diluar mendung tebal mulai menggelanyut membuatku ingin segera sampai dikost-kostan sebelum hujan mengguyur. Dan benar saja  saat aku tiba di kost-kostan hujan benar-benar turun dengan derasnya. Aku segera mandi dan masuk kamarku. Setelah sholat Ashar aku merebahkan diri ditempat tidurku sekedar melepas lelah sebentar. Aku menghidupkan hpku yang sejak tadi siang mati. Dan kubuka kembali pesan Reno yang belum sempat aku balas. Aku mulai mengetik balasannya dengan ragu. Karena antara yakin dan tidak pesan balasanku ini akan dibalasnya atau hanya dibuka tanpa membalasnya seperti sebelumnya. Tak urung sempat beberapa saat aku ragu untuk memencet tanda "SEND" Tapi kuputuskan untuk mengirimnya apapun resiko yang kuperoleh nanti.
     Mataku terpejam. Kilatan kenangan tentang Reno berkelebat cepat.
"Apa yang kau inginkan dariku? Ada kabar kau telah berdua. Aku tak ingin merusaknya. Aku cukup tahu diri tentang siapa aku di kehidupanmu. Ah.. apalah aku?"
Hpku bergetar tanda pesan masuk. Segera kubuka dan ternyata dari network yang menawarkan produknya. Aku tahu dia tak akan membalasnya cepat. Karena aku tahu aku bukan siapa-siapa dia.. Hanya sebatas teman rahasianya. Air mataku bergulir. Terlalu asa yang kusemat pada dinding harap. dan kuharap suatu saat aku mampu melepasnya bersama guliran waktu yang berkarat.
Dan...akupun tertidur.

R@

    

Senin, 09 Maret 2015

MASIH TENTANGMU

Seutas rindu yang terpilin rapi dihatiku, tak sempat kuserahkan padamu
Aku tak ingin kau salah mengerti akan rasa ini
Kesalahan yang tak butuh pembenaran
Karena aku sadar diamku dalam rasaku adalah sendirian
Kadang aku berharap tak pernah ada persimpangan jalan
Dimana teduhnya tatapanmu hanya kusebut kenangan
Akan ada selalu kenangan indah darimu yang takkan lekang oleh waktu
Dan aku sadar bahwa sesungguhnya aku merindukan sesuatu yang tak pernah kumiliki
Ketika bayang senyummu memudar seiring langkahmu yang beranjak pergi
Nanti..pada akhirnya takdir menyadarkan kita bahwa kita telah melangkah menuju bintang yang berbeda
Bintang yang takkan pernah meninggalkan langit
Dan ijinkan aku mengartikanmu layaknya bintang yang indah nun jauh itu

*bila aku tak bisa memeluk dirimu aku masih bisa mendekap ingatan dan kenangan tentangmu.*

R@

Diary Hati

I have to forget about u. No matter what.. It's killing me inside.
...
     Ry.. Aku gak nyangka mulai ada rasa sayang padanya. Dari perkiraanku yang selama ini hanya sebatas teman. Mengapa Ry? Bahkan rasa ini terlalu cepat berkembang. Sempat kutangkap resahnya saat kuutarakan ingin bertemu. Percakapan yang semulanya lancar menjadi tersendat saat keinginan itu muncul ke permukaan. Apakah dia tak ingin bertemu? Lalu kebersamaan selama ini??
     Dan memang seharusnya aku melupakannya. Bukan hanya untuk dia, yang akhirnya kutahu dia telah berdua, tetapi untuk diriku juga agar aku tak terlalu sakit berlebihan. Dan mungkin inilah saatnya bagiku untuk menjauh sedikit demi sedikit hingga nanti dia benar-benar menjadi kenanganku.
Ry, salah ya jika aku berdoa agar dia bahagia? Dan akupun akan merasakan hal yang sama. Aku bahagia karena dia bahagia...dengan yang lain.
     Aku nggak ingin membencinya setelah apa yang telah terjadi. Aku ingin tetap menjadikan kenangan kebaikan tentangnya. Tanpanya aku yakin takkan sekuat ini menjalani. Aku justru ingin berterima kasih padanya akan rasa yang pahit ini. Karenanya kelak aku akan merasakan manisnya cinta seperti apa.
Hmmm... Ry, aku ngantuk. Udahan dulu yaa.. Good night.

R@

KESALAHANKU

     Baiklah. Mungkin aku harus pelan menghentikan rasa ini. Karena memang kusadari perasaan seperti ini tak semestinya ada. Rasa yang mulai mengungkung egois diri yaitu ingin memilikimu. Apakah semudah yang dikatakan orang-orang bahwa pergi sebelum tersakiti adalah yang lebih baik dilakukan? Itulah yang sedang menjadi pertanyaanku kini. Mudahkah aku untuk mengabaikanmu? Mudahkah aku untuk mulai melupakanmu? Mudahkah aku untuk terbiasa tanpamu? Segala risau dan gelisah memaksaku untuk berlalu cepat. Namun hatiku? Tertambat tak sengaja dipelabuhan hatimu yang terlarang. Aku mengutuk keadaan yang membenarkan rasa yang ada. Aku menjadi pesakitan cinta  tanpa aku bisa menolak semua hal yang seharusnya dapat aku abaikan sejak dulu.

     Kembali airmata menjadi teman dikala diam tanpa sempat permisi. Aku harap keputusanku ini cepat membuatku 'move on.' Karena cepat atau lambat hal ini harus aku hadapi dan akulah yang harus pergi. Mengapa harus terulang lagi? Menyayangi orang yang selalu salah. Yang telah ada hati yang lain menempati hampir seluruh kehidupannya. 

     Tuhan...bantu aku untuk melupakan rasa yang salah ini. Walau harus ada sakit dan air mata lagi namun aku tahu Engkau sebenarnya menguatkanku. Sayangi dia dengan cintaMu agar dia bahagia seperti mimpi dan harapannya. Aamiin.

R@

Minggu, 08 Maret 2015

DAMAIKAN HATIKU

Beberapa bulan sebelum pertemuan dalam sebuah obrolan disalah satu media chating...
*MEREKA
''Jangan pergi..''
''Berikan aku cukup alasan yang kuat agar aku mampu bertahan disini.'' Nara diam.
''Baiklah. Diammu adalah sebuah jawaban.''
''Aku membutuhkanmu.''
''Tak cukup kuat untukku mampu bertahan disini. Ada lagi yang lebih kuat alasanmu?''
''Karena...''
''Apa?''
Nara terdiam lagi. Dan Silva offline. Nara panik. Dia berusaha tetap mengirimi Silva pesan.
''Jangan pergi!''
''Aku mohon!''
''Aku ingin kau tetap disini menemaniku..''
''Karena aku membutuhkanmu..'' (emoticon menangis)
Tak ada respon. Ada yang hilang. Air mata Nara tak henti mengalir sejak awal dia chatingan dengan Silva dari setengah jam yang lalu. Masih abu-abu tanda chating Silva  yang telah offline. Nara menangis tersedu. Selama setahun lebih Silva selalu menemaninya dalam dunia maya. Berselancar mengarungi dunia internet. Mereka-reka asa dan menjalin pelangi cinta. Namun sejak kehadiran Abiyoso beberapa minggu terakhir sosok Silva seakan pudar dalam bayangan. Dan Silva menyadari hal itu. Sebelum sakit hati dia memilih mundur dalam kehidupan maya Nara. Meskipun hubungan mereka tak pernah terungkap kata cinta namun saling membutuhkan dan merindukan telah cukup mewakilkan perasaan mereka. Nara masih tersedu saat dia mendengar ada pesan masuk dari hapenya. Sms dari nomer yang tak dikenal.
''Aku capek dengan semua ini. Aku ingin kehidupan yang nyata. Jikapun aku telah salah memilihmu, maafkan aku. Aku mendapat nomer hapemu dari Oja. Jangan salahkan dia tapi salahkan aku yang terlalu padamu. Semoga kau bahagia dengan Abiyoso-mu.''
Deg! Silva!
Nara membalasnya,''Kita berdua tau selama ini kita saling membutuhkan. Kenapa kau begitu tega meninggalkanku?'' Send.
Nara menunggu. 2 menit. 5 menit. Nara masih berusaha sabar. Tapi menjelang menit kesepuluh Nara telah kehilangan sabarnya. Dia menelfon nomer hape yang barusan mengiriminya sms. Mati! Nara membantingnya dikasur. Dan melanjutkan menangis diantara bantalnya. Dia meraung. Menjerit dan teriak. Dia ingin menumpahkan perasaan menyesalnya. Kecewa dan rasa kehilangannya. Silva! Silva! Silva!... Nara memanggil nama Silva dengan pilu.
Dan beribu ratus mil jarak, dipinggiran kolam renang rumahnya, Silva termenung dan menatap handphone yang baru saja dimatikannya. Pelan dia menarik nafas dalam. Seakan menekan beban cinta yang disandangnya kini.
'' Apa yang  membuatmu tak percaya dan pergi dariku? Apa arti kebersamaan kita selama ini? Walau di dunia maya aku menganggap semua ini nyata. Tak pernah aku berniat mempermainkan hati dan perasaan seseorang terlebih bila itu kau.''
     Dan semua memang harus berakhir sekarang. Melupakanmu adalah jalan yang terbaik. Meski terasa berat. Silva meneguk minuman yang sejak tadi menemaninya. Terasa mencekat di tenggorokan namun harus dia telan juga. Seperti kisah cintanya saat ini. 

#someday
#will continued.

Man In Black

     Namanya Black. Gak ada yang spesial dari pertemuan pertama yang sengaja itu. Di cafe shop ujung alun-alun kota menjadi pilihan kami. Di cafe itulah aku begitu tertekan sekaligus lupa makna tertawa yang sering kulakukan. Ah? Terlalu lebay ya? Tapi memang dari cafe itu aku menjadi tahu seorang 'Black' itu bagaimana. Walau penampilan fisiknya tak jauh beda. Namun yang membuatku tertekan ternyata dia seorang pendiam. Mengapa? Karena apa yang dibicarakan dan yang terlihat tak sesuai dengan apa yang kubayangkan. Aku telah merangkai angan yang salah tentang dia. Kukira aku dapat nyaman bicara apa saja dan dia menjawab ataupun sekedar menimpali omonganku dan tertawa bersama tentang segala hal. Ternyata semua itu cuman hayalan. Tak ada pembicaraan yang pasti. Aku hanya bisa diam dan mereka-reka apa yang akan dikatakannya. Tapi satu jam waktu berlalu tak ada kalimat yang bisa membuat aku merasa nyaman berbicara dengannya. Sangat berbeda sekali saat kita chating.
Sampai aku memutuskan untuk pamit. Dan dia berkata agak terbata ibarat menahanku untuk bangkit,''Aku tau, ini semua gak seperti yang kau harapkan. Tapi setidaknya beri aku waktu lain agar aku lebih 'berani' dengan pertemuan kita.''
Dan benar, aku memang tertahan untuk bangkit setelah mendengar dia berkata 'sepanjang' itu. Aku tertegun dan 'berani' menatapnya yang sedikit jengah juga menatapku. Aku segera mengalihkan pandanganku. Ada desir hebat yang tiba-tiba datang dalam hatiku saat menatapnya tadi. Dengan gugup aku hanya mengangguk dan mengiyakan permohonannya. Dan aku segera bangkit melangkah menjauh dari tempatnya. Langkahku terasa berat seakan-akan dia mengawasiku dari belakang. Di depan cafe aku masih termangu. Pertanyaan dan rasa penasaranku bertambah kental. Sore masih menyisakan semburat matahari. Langit jingga yang merona membawa langkahku menjauhi cafe.
     Malam agak dingin setelah terguyur hujan dari pagi tadi. Suara binatang malam seperti berpesta sejak sore tadi. Aku masih di depan jendela kamarku. Memandang kelam langit dan menikmati hembusan angin. Secangkir Indocafe yang menemaniku masih separuh. Aku sengaja ingin menikmati malam ini setelah seminggu ini penat mendera karena pekerjaan. Aku mengambil nafas panjang sekedar menghalau suntuk. Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Tanda pesan masuk. Kuraih diatas meja dan kuliat siapa yang mengirim pesan malam-malam begini. Black! Hatiku berdesir. Hampir satu bulan sejak pertemuan kami di cafe itu tak ada lagi komunikasi diantara kita. Aku yang sibuk dan hampir tak ada waktu untuk chating. Dan diapun seakan memutuskan untuk diam. Kubaca pesannya ''sudah tidur?'' Pesan yang biasa jika kami saling ingin online di salah satu media sosial. Aku tak ingin membalasnya. Namun aku teringat kata-katanya saat pertemuan kami. Aku menjawabnya,''Belum.'' dan segera kukirim. Balasan masuk semenit kemudian,'' Online yuk?''
Aku sudah menduganya. Aku sedang malas online. Selain penat aku ingin menenangkan pikiran dalam hening. Terpaksa aku berbohong, ''Lagi banyak tugas nih? Besok aja yaa?'' tawarku.
'' Oke. Gak papa. Met lembur aja.'' Balasan kuterima saat dentang waktu menunjukkan angka sebelas malam. Aku tak membalasnya. Kuletakkan handphoneku dimeja. Aku merasa bersalah dengan membohonginya tadi. Tapi memang saat ini aku ingin sendiri. Kutarik nafas perlahan.. ''Maafkan aku Black,'' sesalku dalam diam. Kupandang langit masih gemerlap bintang. Namun hatiku telah enggan menikmatinya. Kuputuskan untuk tidur lebih awal dari rencanaku.
Aku bangun tergesa pagi ini karena aku lupa mengeset alarm. Alhasil aku harus 'skip' sarapan kalo gak mau datang terlambat ditempat kerja. Tepat pukul 8 aku sudah ada di depan restoran tempatku bekerja. Saat akan kulangkahkan kaki masuk lewat pintu samping aku mendengar seseorang tengah berbincang dari arah pintu masuk yang menghubungkan ruang samping dan depan. Aku tak sempat memandang karena teman satu shift keburu menghadangku.
''Tau gak kalo manajer kita ganti?'' kata Irma antusias.
''Iya taulah, kan udah dikasih tau dari bulan lalu?'' jawabku sambil lanjut melangkah. Tapi ditahan sama Irma.
''Eh..iya sih, tapi kamu tau gak gantinya? Dia lumayan ganteng tapi serem,'' Irma bergidik.
Aku memandang Irma sambil menahan senyum.
''Ir...ir, mana ada ganteng tapi serem? Vampir kali?? Kan difilm-film vampir tuh pada ganteng-ganteng tapi serem?'' aku menjawab sambil menuju ruang belakang untuk ganti baju. Dan Irma mengikuti sambil membawa sapu. Ternyata dia tadi menyapu tapi kegiatannya terhenti begitu melihatku dan menghadangku dipintu samping.
''Eh, kamu dibilangin gak percaya. Katanya dia putra salah satu grup pemilik restoran kita ini. Baru pulang sekitar dua bulan yang lalu dari England,'' papar Irma panjang sambil menantiku ganti baju. Aku keluar dari bilik sambil manggut-manggut untuk menyenangkan Irma atas segala informasinya. Tapi sepertinya Irma tau aku tak begitu tertarik dengan infonya.
''Huh! Mbilangin kamu itu kayak mbilangin tembok!'' sambil berbalik menuju ke arah depan. Tapi segera ku tarik tangannya sebelum menjauh.
''Iya..iya terima kasih ya? Tapi lain kali jangan ngadang di pintu seperti tadi ya? Selain bikin jantungan, kadang aku kalo di kagetin spontan nempeleng orang biasanya,'' kataku bercanda. Irma yang tadi manyun kembali meringis ingat ulahnya barusan. Dan kita sama-sama ke depan untuk memulai hari baru kami.

     Aku masih mengingatnya saat aku tak sengaja bertubrukan di depan toko buku dengan dia. Dan sempat terkejut dengan pertemuan tak sengaja kami saat itu. Dia kaget dan aku kaget. Namun dia lebih bisa menguasi diri dan segera membantuku memunguti buku-buku yang baru saja kubeli.
" Eh kamu, barusan beli buku yaa?" tanyanya basa basi.
Aku yang tak kalah gugupnya hanya menganggukkan kepala. 
" Masih ada acara nggak? Kita ngobrol-ngobrol dulu yuk?" tawarnya.
Aku yang sempat memadangnya seperti terhipnotis dengan senyumnya. Dan gilanya aku mengangguk lagi. Duhh..!! Kenapa nggak nolak aja tadi? batinku.
    Sepuluh menit kemudian aku dan dia duduk berhadapan dicafe shop. Kupilih tempat di pinggir jendela. Entah mengapa tanganku dingin danmerasa akan terjadi sesuatu hari ini. tiba-tiba aku gelisah. Dan dia sempat merasakan perubahanku.
" Kamu gak papa?" tanyanya.
" Nggak kok..nggak papa," jawabku sambil tersenyum.
" Nggak sengaja ya kita ketemu? Padahal kalo direncana nggak dapat-dapat waktunya," katanya sambil mengaduk minum yang dia pesan. Aku tersenyum lagi sambil membenak," kenapa dia berubah banget dari pertemuan kami yang pertama yah?" perang batin membuat aku sedikit pendiam dengan pertemuan kami ini. Dan dia benar-benar merasakannya.
" Kamu kaget kenapa aku tiba-tiba banyak bertanya dan banyak ngomong padamu?" tanyanya seperti dia mengerti pikiranku. Aku tersentak.Sebelum aku menjawab dia sudah melanjutkan dia memberikan kode dengan jari telunjuknya yang dia tempel dimulutnya agar aku diam dulu dengan segala penjelasannya.
" Karena pekerjaanku sekarang menuntut aku untuk lebih banyak ngomong dan memberikan intruksi-intruksi yang sekiranya dapat membuat maju perusahaan. Dan aku tiap hari harus bertemu banyak orang yang kadang juga harus banyak bicar mengenai produk yang ada dalam perusahaan kami.." jelasnya panjang lebar.
" Memang dulu kamu bekerja sendiri ya sampai kamu ketemu aku diam saja dan ngomong seadanya seakan ngomong itu harus bayar?" tembakku cepat.
Dan dia tertawa. Shit! Aku suka cara dia tertawa. Ada semacam aura bahagia diwajahnya. Entah apa.
" Nggak juga. Dulu memang karena pertama kali kita ketemu dan aku juga gak tahu mau ngomong apa jadi ya aku banyakan diam. Tapi jika nanti kita lebih sering bertemu dan saling sapa kamu akan tahu seperti apa diriku." jawabnya santai.
" Aku nggak nyangka aja kamu banyakan bicara daripada waktu pertama dulu," kataku jujur.
"Orang kan perlu perubahan agar gak stag ditempat aja. Iyakan?" katanya sambil tersenyum.
Aku membalasnya dengan anggukan sambil menyeruput minuman didepanku. Tak sengaja aku melirik jam tanganku. Duaarr! Alamat aku telat kerja! Segera aku buru-buru pamit padanya. Karena aku tak mau reputasiku jelek sebagai karyawan yang telat kerja. Dan kagetnya lagi dia mau mengantarku.
" Gak papa kan aku juga lewat depan tempat kerja kamu," katanya santai seakan tak melihat rasa kagetku barusan. Dan karena memang telah mepet jam kerjaku aku terpaksa mengiyakan tawarannya. Eh? Darimana dia tahu tempatku bekerja? Padahal aku belum bilang tempatku bekerja tadi? Penasaran aku tanya ke dia," Kamu tau dimana aku  kerja?" 
Sambil tersenyum dan mengambil kunci kontak mobilnya dia berkata," Taulah..kan kamu adalah karyawan yang selalu tepat kerja dan disiplin."
What? 
Aku berhenti melangkah dan kembali berbalik menghadap dia. Aroma tubuhnya yang macho 'agak' menggoyahkan hatiku. Dan dengan aksiku dia reflek juga berhenti tepat didepanku. 
"Kamu memata-matai aku ?" Tanyaku ketus.
"Aku? Memata-matai kamu? Buat apa? Jawabnya sambil nyengir kuda. Ich.. Sebelnya!
"Ayo cepat! Katanya telat kerja? Kok malah bengong? Ntar manajer kamu nyinyir loh?" Godanya.
Aku dengan cepat tertegun dan balik badan jalan lagi keluar coffee shop menuju tempat parkir. Nggak sempat berpikir kenapa dia tahu segalanya tentang aku. Dan jawaban semua itu setelah aku  tiba ditempat kerja. Sampai didepan tempat kerjaku dia juga turun.
"Eh? Kenapa juga kamu juga turun? Udah pulang aja restonya belum buka juga" kataku asal.
"Kata siapa belum buka? Kan bukanya sejak pagi tadi?" Jawabnya asal sambil melangkah santai masuk ke dalam restoran. Dan saat aku masuk kedalam semua teman kerja melihatku dengan tanda tanya dan dari pandangan merekabertanya- tanya kenapa aku  bersamanya.
Namun aku tak punya waktu dan kesempatan untuk menjelaskan karena aku segera kebelakang mengganti bajuku dengan baju seragam. Dan saat aku  keluar ruang ganti Irma memandangku curiga. 
"Kenapa kok mukamu kayak habis liat hantu gitu?" Sambil merapikan baju seragamku.
"Kau semobil dengan Pak Manager yangbaru? Kau kenal dia?"
WHAT?????????

Selasa, 03 Maret 2015

Intermezo

Jika bintang selalu punya cerita tentang indahnya terang, maka langit gelaplah yang menampakkannya. jika pelangi selalu melukis warna-warni maka mendunglah yang mengawali hadirnya. Jika sukses selalu beraroma kesenangan maka kebanyakan ia datang dari perjuangan panjang. Sesungguhnya bersama kesulitan selalu ada kemudahan.

R@