WELCOME TO MY BLOG

Kamis, 02 April 2020

Cerpen

Aku terdiam disudut kamar. Matahari sepertinya sebentar lagi tenggelam. Membuat redup ruangan kamar yang hanya punya satu jendela menghadap ke timur ini. Entah sudah berapa lama aku terduduk dan dan termenung diam. Entah sudah berapa liter air mata terbuang untuk hari ini. Aku hanya merasakan lelah. Kepalaku mulai berdenyut. Seiring mengeringnya air mata ini. Aku beringsut bangkit menuju tempat tidurku. Meringkuk kembali dan mengecilkan tubuhku sekecil mungkin. Aku ingin bumi menelanku. Rasa ini begitu menyakitkan. Sudah berapa lama luka itu ada? Setahun, dua tahun..?? Entahlah..
Aku mendengar pintu kamar terbuka. Seseorang masuk dengan mendorong sesuatu. Perawat itu.
"Ratih, waktunya makan," sambil menata sesuatu di meja sebelah tempat tidurku, " Bagaimana keadaanmu hari ini? Masih menangis lagi? Kau tidak kasihan pada matamu yang telah lebam seperti itu? “ tanyanya. Tanya yang sama setiap hari.
"Seharusnya kau kasihan pada hatimu juga," sambil membangunkanku duduk ditempat tidur. Diambilnya sisir dari kantong baju putihnya. Dia mulai menyisirku.
" Masa lalu tak berhak mengukungmu seperti ini, karena ada masa depan utuh untukmu."
Lalu perlahan dia buka ikatan tali lenagn baju dibelakangku. Yang sengaja dilakukan agar tanganku tidak bisa melakukan upaya-upaya yang membahayakan jiwaku. Ah.. Berapa kali aku ingin menyudahi hidup. Aku tak lagi perduli dengan nyawaku sendiri.
" Tuhan memberikan cobaan itu agar kamu bisa tegar dan mampu menghadapi cobaan yang lain, Ratih," sambung perawat itu. Aku melirik papan nama didadanya.
Mayang. Selama ini aku bahkan tidak tahu namanya. Dia mulai menyuapiku. Dan aku mulai makan. Perlahan.
" Aku mempunyai seorang adik, namanya Tantri," Mayang mulai bercerita.
" Dia kini sudah mulai bekerja, dan tidak lama lagi mungkin akan menikah. Dia seumuran denganmu. Sempat beberapa kali patah hati, namun dia tak pernah menganggap patah hatinya sebagai hal yang jarus disesali. Dia menganggap bahwa patah hatinya adalah isyarat dari Tuhan bahwa laki-laki itu tidak tepat untuknya. Dan Tuhan telah menjaga hatinya dari orang yang salah," tuturnya sambil tersenyum. Ada semburat bahagia di wajahnya.
" Dan beberapa hari yang lalu, calon suaminya melamarnya. Mungkin 2-3 bulan kedepan mereka akan menikah. Aku bahagia akan hal itu. Meskipun itu belum berlaku untukku. Karena sampai saat ini aku belum menemukan laki-laki yang tepat yang Tuhan kirim untukku. Tapi aku tak bersedih, karena Tuhan pasti memberikan yang terbaik untukku," sambil menarik nafas panjang, dia beranjak mengambil susu untukku.
" Kau tahu, kau begitu cantik. Masih banyak laki-laki yang akan berjuang untukmu untuk mendapatkan cinta yang tulus itu darimu. Bukan pada laki-laki yang terus kau tangisi, namun telah menyakitimu sedemikian rupa. Ayolah.. sayang, ingatlah ibu dan ayahmu yang selalu menyayangimu setulus hati." ucapnya sambil menatapku dengan semangat.
Aku mulai menangis lagi. Dan tanganku mulai disilang serta kembali lengan bajuku diilat dibelakang. Mayang mengelus pundakku. Menghapus airmataku. Berusaha menenangkanku. Aku dipeluknya. Dan itu cukup berhasil. Aku diam. Dan mulai memberat kelopak mataku. Sebelum aku lelap sempat kedengar lamat-lamat Mayang berkata, " hidup hanya sekali dan gunakan untuk kebaikan."

Nafasku memburu, aku mulai berteriak-teriak. Di depanku aku melihat dia yang dengan sengaja menyakitiku, membawa perempuan yang kesekian di depan mataku. Aku menggerung. Aku berontak. Tak lama beberapa orang masuk. Ada sedikit sakit dilengan. Mereka menyuntikku. Aku mulai tenang. Dan bayangan didepanku pudar seiring memberat kelopak mataku. Air mata kembali menetes.

Rabu, 31 Juli 2019

Bias Lara 3 Hati

DERITA HATI I 

    Apa arti sahabat bagimu? Seseorang yang mengerti akan dirimu? Ada dalam suka dan dukamu? Saat ini aku tak mempercayai arti sahabat lagi dalam hidupku. Sejak Kirana mengkhianatiku menjalin hubungan dengan Wisnu. Entah apa yang ada di benak mereka. Hingga mereka mampu melakukan semua ini terhadapku. Benar kata seorang teman di dunia maya bahwa cinta, kasih sayang dan persahabatan itu adalah OMONG KOSONG !! 

Waktu itu aku berkata padanya’ karena kamu egois’. Dan dia sempat protes tapi tak kutanggapi lagi komentarnya. Sekarang aku baru menyadari arti kata-katanya. Bayangan Wisnu dan Kirana berganti-ganti memenuhi benakku. Wisnu. Dari keluarga yang berada, berpendidikan dan masa depan yang tak tanggung-tanggung penerus keluarga “PT SANGKAR JAYA”. Perusahaan dalam bidang ekspor impor makanan siap saji. Kirana. Anak tunggal dari pasangan dokter terkenal di kota ini. Dan aku? Ayahku seorang pengusaha mebel. Dan ibu mempunyai butik yang lumayan ramai bisa untuk mengisi waktu senggang ibu selain menjadi ibu rumah tangga dan istri. Ibu tetap memprioritaskan keluarga diatas segalanya. Dan seorang kakak yang begitu menyayangiku. Mas Dewa.  

Kedekatan kami berawal dari acara ulang tahun Saskia putri semata wayang seorang jendral. Aku berteman dengan Saskia dari SMP, meski tak terlalu dekat tapi kami berteman baik. Awal yang tak terduga saat tiba-tiba perutku sakit dan aku kebingungan mencari kamar kecil di rumah Saskia yang segede gudang bulog di kotaku (menurutku hehehe..) Tak sengaja aku menabrak seseorang yang keluar dari sebuah pintu bertuliskan MALE. 

“ Aduhh…maaf, aku nggak sengaja,” buru-buru aku minta maaf  padanya dan segera berlalu dan masuk ke sebelah pintu yang bertuliskan FEMALE tanpa melihat ekspresinya yang sedemikian kaget melihatku. Dan aku baru tahu setelah kami pacaran beberapa bulan kemudian. Katanya aku dikira hantu yang lagi kesasar. Sialan! Tapi dia menambahkan,” tapi kok hantunya bikin aku jatuh cinta ya?” Dan aku selalu dengan jurus pamungkasku mencubit dan memukulnya dengan gemas. Dan dia selalu menikmati setiap kebersamaan kami waktu itu. Karena pekerjaan dia yang membuat kami jarang bertemu. Tak terasa hubungan kami telah berjalan hampir tiga tahun. Pada tahun ketiga sahabatku sejak SMA pulang kekotaku setelah dia menyelesaikan kuliahnya diluar negeri. Kirana Alva Mendoza. Mirip orang Mexico? Yup! Kakek Kirana adalah keturunan Mexico. Dibekali wajah yang ayu dan kepribadian yang ramah, setiap orang selalu merasa betah dekat dengannya. Tak terkecuali Wisnu! Semenjak aku perkenalkan mereka ada yang berubah dalam hubungan kami. Aku selalu sulit untuk bertemu dan menelfonnya. Ada yang tak beres dengannya. Dan puncaknya terjadi saat aku tak sengaja lewat didepan rumah Kirana. Iseng aku mampir untuk memberi kejutan padanya. Dan akulah yang terkejut diruang tamu itu setelah tahu apa yang terjadi. Kulihat Kirana mencium Wisnu . Aku terpaku dan tak bisa berkata apa-apa. Dan saat mereka menyadarinya aku telah berlari meninggalkan rumah Kirana bersama tetesan air mata yang begitu pahitnya. Wisnu berusaha mengejarku. Sampai dirumah kutumpahkan tangisku. Aku begitu terluka dengan semua itu. Kenapa mereka begitu tega kepadaku?? Wisnu datang berkali-kali semenjak itu. Begitupun Kirana. Tapi aku tak pernah memberi kesempatan kepada mereka untuk menjelaskan semuanya. Bagiku sudah jelas. Mereka mengkhianati kepercayaan yang telah kuberi! Dan keluargaku tak dapat membantu mereka karena mereka tahu sifatku yang begitu kerasnya dalam hal kepercayaan. Dan untuk melupakan semua itu aku minta ijin ayah menemani eyang putri di kampung. Pikirku mungkin dengan pergi dari kota aku bisa sedikit-sedikit melupakan kejadian ini semua. Dan ayah tak punya pilihan lain kecuali mengiyakan keputusanku. Karena ayah begitu sedih melihatku mengurung diri setelah kejadian itu. 

    Dirumah eyang putri aku sedikit terhibur. Berteman semilir angin dan hijau pegunungan hobiku menulis puisi kambuh lagi. Berlembar-lembar puisi aku tulis tentang kekecewaanku. Dan aku jadi gemar menggambar. Hanya sketsa-sketsa namun memberiku keasyikan tersendiri. Aku mulai dapat tersenyum kembali. Dan semoga aku segera melupakan apa yang telah terjadi. Setidaknya hati ini ikhlas dengan semua yang Wisnu dan Kirana lakukan terhadapku. 

DERITA HATI II 

    Aku tertawa jika aku mengingat kejadian itu. Perkenalanku dengan gadis yang selama ini aku sayangi. Meski saat ini aku tak lagi bisa menemukan jejaknya setelah kejadian beberapa bulan yang lalu  namun memori itu kan tetap terpatri dalam hatiku. Sosoknya tak kan pernah tergantikan oleh yang lain.  Yang lain ? Meski aku sekarang dekat dengan Kirana namun dia tak seperti gadisku. Ada lagu dangdut yang sempat aku dengar sayup-sayup saat aku melewati perempatan lampu merah dikota kemarin. Dinyanyikan oleh pengamen jalanan yang belum sempat mampir di jendela mobilku. Lagu itu seperti menyindirku. "..Kalau sudah tiada baru terasa bahwa kehadirannya sungguh berharga..” Kehembuskan nafasku kuat, aku ingin sedikit mengurangi rasa bersalah dan sesak yang ada dalam dadaku. Mungkin benar..aku baru menyadari semua itu. Apa yang kurang dari dia? Dari keluarga baik-baik. Cantik, supel, dan selalu menerimaku apa adanya. Tak pernah mengeluh jika aku terpaksa membatalkan janji karena urusan pekerjaan yang mendadak. Selalu ceria dan tersenyum jika aku menemuinya. Tak pernah ada rasa jenuh yang menghampiri jika aku disampingnya. Huuuffftt..kenapa aku begitu bodoh dengan semua ini? Melepaskan seseorang yang begitu sempurna demi soalan masa lalu yang telah usai. Wajah Kirana dan Meila berganti-ganti mengisi benakku. Meila Dewi. Nama yang sederhana seperti orangnya. Tapi pernah menunjukkan kalau dia dari kalangan berada. Ayahnya yang seorang pengusaha mebel Ekspor Impor. Dan ibunya pemilik beberapa butik termasuk langganan mama. Mobil yang berjejer di garasi jarang dia kendarai. Pernah suatu saat aku tanya mengapa selalu naik kendaraan umum. Padahal ada sopir yang siap mengantar kemanapun dia pergi. 

“ Kalau diantar sama bang Su’eb ayah tahu persembunyianku dong jika aku ngambek,” kekehnya sambil menyentil hidungku. Lalu dia menambahkan,” Aku ingin menjadi orang yang selalu bersyukur dengan apa yang Allah berikan. Aku ingin merasakan juga lelahnya mencari uang. Berdesak-desakan diangkutan umum. Makan diwarung pinggir jalan, berbaur dengan orang-orang pinggiran. Aku ingin merasakan menjadi mereka yang bekerja keras untuk mendapatkan sesuap nasi,”katanya sambil tersenyum.  

“ Apakah aku terlalu?” tanyanya. 

“ Nggak, Nggak ada yang terlalu  kok,” aku tersenyum tulus untuknya. 

    Dan sekarang aku harus kehilangan dia. Tuhan..andai kau ijinkan aku untuk menebusnya akan aku lakukan apapun untuk bisa mendapatkan dia kembali. Aku tak menyangka saat dia memperkenalkan temannya yang ternyata adalah Kirana. Kekasihku yang belum sempat aku putuskan dulu. Yang menghilang karena suatu sebab yang aku sendiri tak tahu apa alasan dia menghilang begitu saja waktu itu. Sampai di sore itu. Dia mengundangku kerumahnya setelah kami sebelumnya beberapa kali telfonan. Hanya menanyakan kabar dan sekedar basa basi. Namun sempat aku melupakan Meila, gadisku yang telah menemaniku selama dua tahun ini. Ada debar yang tak benar dengan semua itu. Namun aku abaikan. Dan puncaknya dia menjelaskan kenapa harus pergi melanjutkan sekolah keluar negeri tanpa memberi tahuku. Walau alasannya sedikit banyak ada yang tak bisa aku terima namun aku juga tak menolak alasannya. Dan dia tetap setia dengan komitmen bahwa hanya aku yang ada di hatinya selama dia ada di negeri seberang. Dan dia menciumku tepat saat Meila tiba diruang tamu  rumah Kirana. Aku menyadarinya saat  semua telah terlambat. Aku sangat marah dengan apa yang Kirana lakukan. Aku mengejar Meila namun dia telah tak mau lagi menemuiku. Aku ingin menjelaskan tapi sepertinya dia tak mau memaafkan aku lagi. 

    Kirana merasa sangat bersalah. Diapun berusaha bicara kepada Meila, dan hasilnyapun sama. Sampai kemudian aku diberi tahu bahwa Meila  pergi menenangkan hati. Aku tak b isa berbuat apa-apa lagi. Karena keluarganya seperti dijanji Meila untuk tidak memberitahu keberadaannya. Aku hanya pasrah dengan segala keputusannya. Andai dia tahu semua yang terjadi adalah diluar kehendakku. Dan aku hanya mampu  berharap kelak aku dapat menjelaskan kepadanya. Bahwa semua ini hanya salah paham belaka dan hanya dia yang ada di hatiku selama ini. 

DERITA HATI 3 

    Aku telah menjadi monster bagi sahabatku sendiri. Sahabat?  Mungkin juga dia tak lagi menganggapku sahabat lagi. Dengan semua apa yang telah terjadi mustahil diapun mau memaafkan aku. Air mata ini kembali menetes dipangkuan. Aku terbawa perasaan saat bertemu dengan Wisnu. Rasa yang selama ini kusimpan dan kupendam untuk dia ternyata sia-sia belaka. Selama di luar negeri aku berusaha bertahan pada janjiku sendiri untuk tetap memberikan hati ini sekembalinya aku dari luar negeri. Salahku jika semua ini menjadi berantakan seperti ini. Aku tak memperkirakan kalau Wisnu  mendapatkan penggantiku. Dan parahnya dia adalah sahabat kecilku dulu. Ironisnya lagi aku tak merelakan mereka untuk bersatu. Jahatnya diriku. Aku tergugu dalam kamarku  menikmati sakit ini sendiri. 

    Masih kuingat saat terakhir aku bicara padanya,  malam sebelum kepergianku keluar negeri. 

“ Bila aku harus pergi untuk sementara, apakah kau mampu untuk menungguku ?” tanyaku padanya 

“ Maksudmu ?” tanyanya dengan wajah yang tidak mengerti. 

 Aku hanya bertanya seumpama  aku harus pergi sementara apakah kau sanggup untuk menungguku ?” jawabku dengan tersenyum. 

“ Kamu ini ngomong apa sih ? Kayak kita ini mau pisah aja. Memangnya kamu mau pergi kemana ?” tanyanya balik. 

“ Mau menggapai bulan…” jawabku bercanda.

Dan dia menggelitikku sampai aku minta ampun untuk bisa menghentikan apa yang dilakukannya. Dan esok harinya  aku berangkat keluar negeri tanpa memberitahunya. Air mata ini tak henti menetes dengan perpisahan yang terpaksa. “ Maafkan aku Wisnu, kelak kau akan mengerti mengapa semua ini harus terjadi,” isakku didalam pesawat. 

    Dan empat tahun ternyata telah merubah segalanya. Aku tak mendapati dirimu sendiri seperti dulu. Ada seseorang yang telah hadir menggantikanku. Dan dia adalah sahabatku sendiri. Ada perih disudut hati. Namun aku juga tak bisa berbuat apa-apa. Semua telah terlambat. Tapi aku ingin menjelaskan semuanya tentang kepergianku selama ini. Namun  apa yang terjadi malah membuat masalah yang baru. 

Sahabat maafkan aku… 

“Telah ku rusak kebahgiaanmu bersama orang yang kau cintai, meski orang itu juga aku cintai. Namun keadaan yang telah merubah segalanya hingga dia memilihmu menjadi tambatan hatinya setelah kepergianku.” 

Kuusap lelehan airmataku. Aku telah memutuskan sesuatu. Dan kuharap keputusanku ini yang terbaik untuk semua pihak. Aku akan pergi jauh dari kehidupan mereka yaitu kembali keluar negeri dan menetap di sana. Agar mereka tenang dan mungkin aku juga bisa segera melupakan semua ini meski aku yakin akan sulit bagiku namun semua ini adalah konsekwensi yang harus ku tanggung. Biarlah aku ibarat lilin kecil bagi mereka, merelakan diri terbakar demi menerangi kegelapan. Aku berharap setelah kepergianku mereka bisa bersatu dan segera menikah, membentuk keluarga yang bahagia. 

    Kupandangi taman dari jendela kamarku. Hujan yang mengguyur siang tadi membuat suasana segar sore ini. Rumput yang kelihatan segar menghijau dan udara yang sejuk membuat suasana hatikupun terlarut dalam sore yang teduh ini. Kulirik tas dan koper yang telah kusiapkan tadi malam.Walau harus melalui perdebatan yang panjang dan ijin yang begitu berbelit dari pap dan mama, namun akhirnya aku memperoleh ijin untuk kembali meneruskan kuliahku sambil bekerja di luar negeri. Dan aku memberikan beribu alasan yang mampu meyakinkan papa dan mama agar aku di perbolehkan menetap di luar negeri. Meskipun agak keberatan namun akhirnya mereka memberiku ijin dengan syarat aku harus pulang setahun sekali. Dan aku segera menyetujuinya. Kuhela nafas yang segera membentuk embun di jendela kamarku. Semoga keputusanku ini tepat,batinku.  

“ Semoga kalian bahagia…”doaku lirih. 

Rabu, 24 April 2019

Dan... Terjadi lagi

Perih yang terasa sama.. Namun kali ini aku lebih siap untuk semua. Dan ternyata aku masih sadar dan tegar dalam menghadapi semua. Meski semua ini kesalahan ku telah mengulangi hal yang selalu sama namun aku juga tak berdaya akan semua yang telah terjadi. Pergilah dengan segala cerita tentang kita. Walau sebentar cukuplah kita pernah ada rasa bahagia yang membuat kita tertawa dan merasa saling membutuhkan.

#intropeksidiri
#jolalibahagia
#lifeisgood
#Godisgoodallthetime
24/april/2019

Kamis, 05 Juli 2018

RASA

Aku melihatmu beberapa kali. Jangan tanya kapan dan dimana. Dan aku semakin menyadari bahwa debar itu sudah tak ada lagi. Terbiasa hati ini kembali menatapmu. Tak ada lagi denyut yang menjalar menghangat seperti dulu. Aku tersenyum. Ternyata aku mampu melewati semua ini. Ternyata tanpamu aku masih hidup sampai detik ini. Dan hebatnya lagi, aku mulai bosan melihatmu dengan segala kebohongan yang kau tunjukkan. Pura-pura bahagia.. Hahhaha.. Ternyata aku yang sejatinya bahagia. Kau bisa menutupinya. Kau bisa berpura. Tapi aku tak bisa kau bohongi dengan tatapan matamu yang sedih dalam kehidupanmu. Menyedihkan sekali hidupmu!!!
Apa yang kau lakukan akan kembali kepadamu.
Let karma do it.

East java, 5 july "18

Selasa, 30 Januari 2018

Langkah

Langkah ku kian cepat untuk meninggalkan mu. Bukan kah kau senang? Tak akan lagi ada batu sandungan. Ah..bagimu aku ini hanyalah setitik embun yang menghilang saat mentari sepenggalan. Hilang tiada berbekas meski itu hanya sepenggal ingatan. Biarlah.. Biarlah kita dengan cerita masing-masing. Dan ada saat dimana cerita kita akan terulang bukan pada kita. Meski bukan dengan judul yang sama namun kelak kau akan mengingat nya. Sebagai kisah yang sempat kau sengaja lupakan. Baik-baik lah kau dalam menjalani kehidupanmu yang egois..

Buat mu "B"
Lawu Selatan, 31/1"18

Selasa, 09 Januari 2018

Trust me

Kembali air mata tak berguna ini menentes dipipi.
Sewajarnya jika aku nelangsa melihat kehidupan mu yang sekarang.
Kau tutupi dengan huraaa dan gelak tawa.
Kau dustai hatimu sendiri dari nestapa.
Sejujurnya aku harus bahagia melihatmu menderita.
Namun hatiku tak menerima dengan segala yang ada.
Kau begitu angkuh dan sombong dengan semua.
Sampai kau lupakan sepotong hati yang tulus menyayangi.
Harus kupendam segala kesedihan.
Dan melihatmu dikejauhan dengan segala dustamu pada dunia.
Suatu saat nanti kau pasti mengingat.
Bahwa ada hati yang begitu kau bikin kecewa dan terluka dengan sifat mu yang egois.
Selamat berduka dan berpesta dengan derita yang tak berkesudahan.
Karena doa dan pengharapan telah kau gerus dengan kesombongan.

Sangut. 10jan18

Sabtu, 29 Juli 2017

Tak Tahu (late post again)

Kau..
Tak kan pernah tahu bagaimana bisa aku bisa bertahan sampai detik ini.. Tak mati
Kau..
Tak kan pernah tahu malam-malam neraka yang kulalui sepeninggalmu
Dan kau bahkan tak pernah tahu seberapa  banyak air mata ini tertumpah sia-sia karena ketidak pedulianmu
Namun selalu doa terbaik yang kupanjatkan untukmu dalam setiap doaku
Dan puncaknya kau tutup semua akses tentangmu didunia maya untukku
Bagimu.. Kau tak ingin lagi berhubungan denganku
Kau tak mau lagi mengenal ku
Kau tak mau peduli tentang kehidupan ku
Dan kau.. Tak ingin terganggu tentangku..
Namun apa yang Tuhan bisikkan untukku?
Semua yang kau lakukan itu malah membuat sadar..
Bahwa Tuhan ingin melindungi ku dari rasa sakit hati
Dan menyadari bahwa aku tanpamu masih bisa hidup sampai saat ini.. Dan bahagia.. Meski harus terlunta, terluka, tersakiti berapa kali.. Hikmahnya?
Karma berlaku untuk mu.. Pun aku..


Sangatta Utara, 26july17