Baiklah. Mungkin aku harus pelan menghentikan rasa ini. Karena memang kusadari perasaan seperti ini tak semestinya ada. Rasa yang mulai mengungkung egois diri yaitu ingin memilikimu. Apakah semudah yang dikatakan orang-orang bahwa pergi sebelum tersakiti adalah yang lebih baik dilakukan? Itulah yang sedang menjadi pertanyaanku kini. Mudahkah aku untuk mengabaikanmu? Mudahkah aku untuk mulai melupakanmu? Mudahkah aku untuk terbiasa tanpamu? Segala risau dan gelisah memaksaku untuk berlalu cepat. Namun hatiku? Tertambat tak sengaja dipelabuhan hatimu yang terlarang. Aku mengutuk keadaan yang membenarkan rasa yang ada. Aku menjadi pesakitan cinta tanpa aku bisa menolak semua hal yang seharusnya dapat aku abaikan sejak dulu. Kembali airmata menjadi teman dikala diam tanpa sempat permisi. Aku tahu cepat atau lambat hal ini harus aku hadapi dan akulah yang harus pergi. Mengapa harus begini? Menyayangi orang yang salah. Yang telah ada hati yang lain menempati hampir seluruh kehidupannya.
Tuhan...bantu aku untuk melupakan rasa yang salah ini. Walau harus ada sakit dan air mata namun aku tahu Engkau sebenarnya menguatkanku. Sayangi dia dengan cintaMu agar dia bahagia seperti mimpi dan harapannya. Aamiin.
R@
Tidak ada komentar:
Posting Komentar