"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
Aku terdiam memandangimu. Diantara temaram "candle night dinner" saat itu, aku masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Begitu cepat dan sekarang telah berbeda apa yang kita alami.
Kau masih menunggu jawabanku. Dan kuhela nafas panjang. Masih sabar kau menanti jawabanku saat kutuliskan jawaban itu di pesan yang kukirim padamu. Segera kau membukanya. Dan segera pula air mataku bergulir tanpa sempat kubendung. Aku sedemikian nelangsa, dan kau masih bertanya apa yang akan kulakukan selanjutnya?
"Aku ingin bersamamu!!!" Teriakku dalam hati. Meski bukan itu jawaban yang kukirim kepadamu. Kau..terdiam. Dan akupun meneruskan isakku. Aku menyadari situasinya. Posisimu. Posisiku. Dan aku begitu egois ingin tetap bersamamu. Permainan nasib apakah yang kita jalani ini? Berjuta tanya kupendam dalam hati. Adakah keinginanmu untuk bersamaku? Siapakah aku dalam kehidupanmu? Sanggupkah perpisahan ini kujalani setelah apa yang terjadi? Sedihnya menyayat-nyayat hingga saat ini. Dan sejuta tanya itupun tetap terendap dalam hati.
Wajah sendumu membuatku tersadar. Tanpa jawabanpun aku tahu. Tapi tetap ku berharap. Hanya itu. Dan jawaban itu ku dapat beberapa hari kemudian. Dan seperti yang kupikirkan tiada keinginanmu untuk bersamaku. Setidaknya aku mampu tentukan langkahku. Meski berat dan sulit jalan yang kuhadap. Aku harus mampu sendirian. Tanpamu, dia, mereka. Hanya aku.
Rà
MemorySangatta"16
Tidak ada komentar:
Posting Komentar