Beberapa bulan sebelum pertemuan dalam sebuah obrolan disalah satu media chating...
*MEREKA
''Jangan pergi..''
''Berikan aku cukup alasan yang kuat agar aku mampu bertahan disini.'' Nara diam.
''Baiklah. Diammu adalah sebuah jawaban.''
''Aku membutuhkanmu.''
''Tak cukup kuat untukku mampu bertahan disini. Ada lagi yang lebih kuat alasanmu?''
''Karena...''
''Apa?''
Nara terdiam lagi. Dan Silva offline. Nara panik. Dia berusaha tetap mengirimi Silva pesan.
''Jangan pergi!''
''Aku mohon!''
''Aku ingin kau tetap disini menemaniku..''
''Karena aku membutuhkanmu..'' (emoticon menangis)
Tak ada respon. Ada yang hilang. Air mata Nara tak henti mengalir sejak awal dia chatingan dengan Silva dari setengah jam yang lalu. Masih abu-abu tanda chating Silva yang telah offline. Nara menangis tersedu. Selama setahun lebih Silva selalu menemaninya dalam dunia maya. Berselancar mengarungi dunia internet. Mereka-reka asa dan menjalin pelangi cinta. Namun sejak kehadiran Abiyoso beberapa minggu terakhir sosok Silva seakan pudar dalam bayangan. Dan Silva menyadari hal itu. Sebelum sakit hati dia memilih mundur dalam kehidupan maya Nara. Meskipun hubungan mereka tak pernah terungkap kata cinta namun saling membutuhkan dan merindukan telah cukup mewakilkan perasaan mereka. Nara masih tersedu saat dia mendengar ada pesan masuk dari hapenya. Sms dari nomer yang tak dikenal.
''Aku capek dengan semua ini. Aku ingin kehidupan yang nyata. Jikapun aku telah salah memilihmu, maafkan aku. Aku mendapat nomer hapemu dari Oja. Jangan salahkan dia tapi salahkan aku yang terlalu padamu. Semoga kau bahagia dengan Abiyoso-mu.''
Deg! Silva!
Nara membalasnya,''Kita berdua tau selama ini kita saling membutuhkan. Kenapa kau begitu tega meninggalkanku?'' Send.
Nara menunggu. 2 menit. 5 menit. Nara masih berusaha sabar. Tapi menjelang menit kesepuluh Nara telah kehilangan sabarnya. Dia menelfon nomer hape yang barusan mengiriminya sms. Mati! Nara membantingnya dikasur. Dan melanjutkan menangis diantara bantalnya. Dia meraung. Menjerit dan teriak. Dia ingin menumpahkan perasaan menyesalnya. Kecewa dan rasa kehilangannya. Silva! Silva! Silva!... Nara memanggil nama Silva dengan pilu.
Dan beribu ratus mil jarak, dipinggiran kolam renang rumahnya, Silva termenung dan menatap handphone yang baru saja dimatikannya. Pelan dia menarik nafas dalam. Seakan menekan beban cinta yang disandangnya kini.
'' Apa yang membuatmu tak percaya dan pergi dariku? Apa arti kebersamaan kita selama ini? Walau di dunia maya aku menganggap semua ini nyata. Tak pernah aku berniat mempermainkan hati dan perasaan seseorang terlebih bila itu kau.''
''Berikan aku cukup alasan yang kuat agar aku mampu bertahan disini.'' Nara diam.
''Baiklah. Diammu adalah sebuah jawaban.''
''Aku membutuhkanmu.''
''Tak cukup kuat untukku mampu bertahan disini. Ada lagi yang lebih kuat alasanmu?''
''Karena...''
''Apa?''
Nara terdiam lagi. Dan Silva offline. Nara panik. Dia berusaha tetap mengirimi Silva pesan.
''Jangan pergi!''
''Aku mohon!''
''Aku ingin kau tetap disini menemaniku..''
''Karena aku membutuhkanmu..'' (emoticon menangis)
Tak ada respon. Ada yang hilang. Air mata Nara tak henti mengalir sejak awal dia chatingan dengan Silva dari setengah jam yang lalu. Masih abu-abu tanda chating Silva yang telah offline. Nara menangis tersedu. Selama setahun lebih Silva selalu menemaninya dalam dunia maya. Berselancar mengarungi dunia internet. Mereka-reka asa dan menjalin pelangi cinta. Namun sejak kehadiran Abiyoso beberapa minggu terakhir sosok Silva seakan pudar dalam bayangan. Dan Silva menyadari hal itu. Sebelum sakit hati dia memilih mundur dalam kehidupan maya Nara. Meskipun hubungan mereka tak pernah terungkap kata cinta namun saling membutuhkan dan merindukan telah cukup mewakilkan perasaan mereka. Nara masih tersedu saat dia mendengar ada pesan masuk dari hapenya. Sms dari nomer yang tak dikenal.
''Aku capek dengan semua ini. Aku ingin kehidupan yang nyata. Jikapun aku telah salah memilihmu, maafkan aku. Aku mendapat nomer hapemu dari Oja. Jangan salahkan dia tapi salahkan aku yang terlalu padamu. Semoga kau bahagia dengan Abiyoso-mu.''
Deg! Silva!
Nara membalasnya,''Kita berdua tau selama ini kita saling membutuhkan. Kenapa kau begitu tega meninggalkanku?'' Send.
Nara menunggu. 2 menit. 5 menit. Nara masih berusaha sabar. Tapi menjelang menit kesepuluh Nara telah kehilangan sabarnya. Dia menelfon nomer hape yang barusan mengiriminya sms. Mati! Nara membantingnya dikasur. Dan melanjutkan menangis diantara bantalnya. Dia meraung. Menjerit dan teriak. Dia ingin menumpahkan perasaan menyesalnya. Kecewa dan rasa kehilangannya. Silva! Silva! Silva!... Nara memanggil nama Silva dengan pilu.
Dan beribu ratus mil jarak, dipinggiran kolam renang rumahnya, Silva termenung dan menatap handphone yang baru saja dimatikannya. Pelan dia menarik nafas dalam. Seakan menekan beban cinta yang disandangnya kini.
'' Apa yang membuatmu tak percaya dan pergi dariku? Apa arti kebersamaan kita selama ini? Walau di dunia maya aku menganggap semua ini nyata. Tak pernah aku berniat mempermainkan hati dan perasaan seseorang terlebih bila itu kau.''
Dan semua memang harus berakhir sekarang. Melupakanmu adalah jalan yang terbaik. Meski terasa berat. Silva meneguk minuman yang sejak tadi menemaninya. Terasa mencekat di tenggorokan namun harus dia telan juga. Seperti kisah cintanya saat ini.
#someday
#will continued.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar