Aku adalah seorang pelacur. Walau sebenarnya terlalu kasar hal itu kusebutkan. Namun begitulah adanya. Aku menemani laki-laki yang kesepian entah itu sekedar ngobrol, minum atau bercinta. Dengan imbalan uang setelahnya. Bukankah itu yang disebut pelacur? Selama ini aku tak perduli dengan sebutan itu. Sebutan yang orang-orang beri padaku atas apa yang mereka lihat dalam kehidupanku. Aku juga tidak perduli akan sikap mereka, karena aku juga tidak mau perduli atas kehidupan mereka seperti apa. Bagiku kehidupanku adalah hakku dan tanggung jawabku. Bukan mereka. Toh mereka juga tidak tahu mengapa dan bagaimana aku bisa seperti ini.
Aku hanya menjalani kehidupanku. Itu saja.
Suatu hari aku ditelepon oleh seorang teman lama. Dia singgah ke kotak tinggal untuk beberapa hari. Dan dia ingin aku menemaninya selama dia ada di kotak untuk urusan bisnisnya. Aku mengiyakannya. Secara aku sudah terbiasa dalam menemani seseorang pikiranku saat itu. Dan hari itulah tiba. Dia datang saat hujan gerimis membasahi setiap jalanan. Pakaiannya yang rapi dan santun membuatku malu. Kenapa dia memilih aku untuk menemaninya? Sedangkan bila dia mau dia akan memilih wanita yang lebih dari aku. Yang lebih terhormat lah dimata dia. Bukan pelacur seperti aku. Tapi pikiran itu kutepis, kesimpan dalam. Seiring dengan obrolan dan tawa canda seperti masa lalu. Dia tidak berubah. Tetap temanku yang lama itu. Walau aku tahu dia tahu akan profesiku. Malam semakin larut saat kami menghabiskan waktu perjumpaan kami dimalam itu. Dan jam telah menunjukkan angka melewati angka satu. Dia tersadar dan mengajak ku pulang. Aku diantarnya pulang ke kost dan dia balik ke penginapannya. Aku termangu setelah dia pergi. Namun segera (kembali) kutindih tanyaku dalam hati.
Keesokan hari aku ditelepon kembali oleh dia. Dia berharap aku mau menemaninya makan malam dengan klien nanti malam. Dan dia akan menjemput setelah jam tujuh malam. Aku mengiyakannya. Karena memang sudah berjanji padanya untuk menemani selama dia ada dikotaku. Jam tujuh lewat sedikit dia mengetuk pintu dan kami pergi ke restoran yang kebanyakan tamunya orang-orang berkelas. Aku sedikit kikuk saat itu. Seakan dia tahu dia genggam tanganku sambil tersenyum seakan mengatakan, "tidak ada yang perlu dikuatkan."
Dan aku sedikit merasa tenang. Pertemuan itu berjalan dengan baik. Bahkan klien nya mau bekerja sama dengannya diproyek selanjutnya. Setelah kliennya pergi. Aku lalu diantar pulang. Dan dia kembali ke penginapan. Sebelum kembali ke penginapan dia mengucapkan terima kasih dan memberitahu ku bahwa esok dia akan pulang kembali ke kota dia. Tapi dia ingin bertemu denganku sebelum dia pulang. Dan laki-laki aku mengiyakannya.
Keesokan hari dia datang. Aku silahkan dia masuk. Dan aku buat teh untuknya. Saat aku membuat teh aku berencana menanyakan sesuatu yang dua hari ini terindih rapi dalam hati.
Seperti biasa kami berbincang. Dan saat dia akan pamit aku tahan dia dengan pertanyaanku. Mengapa dia tak mengajak tidur dan tetap memilih aku walau aku tahu dia bisa mendapatkan wanita yang lebih baik untuk menemaninya. Dia sempat tertegun. Dan dia menjawab sambil menepuk pundakku," aku tahu apa profesimu. Tapi aku menghargai segala keputusanmu. Karena aku tahu tidak ada yang menginginkan kehidupan seperti yang kau lakukan. Kau pasti punya alasan yang cukup kuat sebelum memutuskan menjalani profesimu. Dan aku tidak akan menodai persahabatan kita ini dengan nafsu. Karena aku lebih menghargai mu sebagaimana sahabatku yang dulu dari profesimu sekarang. Tetap jadilah dirimu yang dulu apapun yang kau lakukan sekarang ini. Seandainya ada jalan yang lebih baik maka lakukanlah sebelum terlambat kau menyesalinya. Jaga sehatmu sebelum sakitmu. Dan jangan lupa bahagia."
@jangan menghakimi profesi seseorang bagaimana pun kondisinya. Karena kita tidak tahu bagaimana beratnya dia bisa sampai dalam keadaannya yang sekarang.
#respect
#truestory
#testimonial
Tidak ada komentar:
Posting Komentar